Mengapa Istri Seharusnya Bekerja
Dari banyak temen gue jaman kuliah maupun SMA dulu, lumayan banyak yang udah menikah. and this brings us to another topic on myself… but anywaaaay Menariknya, sebagian dari mereka ada yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Tentunya masing-masing punya alasan sendiri.
Dengan segala hormat terhadap apapun yang sudah mereka putuskan untuk hidup mereka sendiri, gue masih percaya kalau baik suami dan istri harus tetap bekerja meskipun sudah menikah. Buat gue, istilah 100% ibu rumah tangga itu udah nggak valid. Ini antara lain karena faktor:
1. Keterbukaan wawasan dan cara berpikir
Bekerja itu, selain buat duit, juga penting buat menjaga kemampuan otak yang udah digebuk-tempa sejak kelas 1 SD sampe semester terakhir kuliah, agar bisa tetep tajem, kritis, dan logis. Kelamaan nggak kerja dan nggak ngadepin masalah-masalah baru, bisa berakibat jelek karena itu berarti nggak ada tantangan lagi buat ngasah otak ini. Akhirnya tumpullah kemampuan kritis-logis yang udah dibangun bertahun-tahun itu. Tetap bekerja adalah kunci ketajaman otak. Selain penting buat diri sendiri, kemampuan ini juga penting untuk ditularkan nanti ke anak.
2. Kemampuan berinteraksi dan sosialisasi
Manusia sangat terpengaruh dengan orang-orang di lingkungannya. Sadar nggak sadar, dengan kita bekerja setiap hari, diri kita melakukan pelatihan dan penyesuaian interaksi dan komunikasi dengan orang-orang yang kita temui di kantor. Dengan seseorang tetap bekerja, ini sangat baik buat dirinya untuk tetap belajar cara berinteraksi yang lugas dengan orang lain, termasuk (kalo dia seorang istri) ke suami dan anaknya.
3. Kemampuan buat survive dalam keadaan nggak terduga
Siapalah yang bisa ngebaca masa depan, selain Mama Loren dan Ki Joko Bodo (dan yang dua terakhir pun kebanyakan ngawurnya, hihihi…). Sekarang mungkin istri masih bisa hidup dengan ngandelin suami sebagai pencari nafkah, tapi gimana kalo terjadi apa-apa sama sang suami yang ngebuat dia nggak bisa nyari nafkah lagi? Jangan sampailah si istri kemudian harus ngutang sana sini, atau (andai suaminya meninggal) sampai harus kawin lagi bukan karena cinta tapi demi ngasih makan dia dan anaknya. Menurut gue, cara yang paling bijak buat mengantisipasi hal yang gak dipengenin kayak gini adalah dengan mengurangi ketergantungan finansial antar suami-istri, yaitu antara lain ya tadi itu, suami istri tetap bekerja dan sama-sama menghasilkan nafkah.
4. Biaya hidup
Akhirnya memang ada faktor finansial juga yang mendukung kenapa istri harus bekerja juga. Cuma tetep aja gue taruh di bagian terakhir, karena buat gue, tiga hal pertama itu lebih penting daripada sekedar duit.
Ya sekali lagi, emang ini semua terserah keputusan keluarga itu masing-masing. Gue pribadi pengen menghargai istri gue di masa depan nanti sebagai seorang individu yang utuh, yang selalu belajar dan berinteraksi dengan orang lain, sekaligus hidup sebagai dirinya sendiri. Dan menurut gue, tetap bekerja untuk mengembangkan wawasan, itu komponen penting bagi manusia yang utuh jaman sekarang.
29 Januari 2007 at 11:02 am
Kalau sampai detik ini, 2 bulan menikah, masih setuju bang. Mendingan istri kerja aja, pertimbangan utamanya, dengan istri bekerja bisa menunjang cicilan rumah
hehehe. Tapi ga tau juga bang kalau dah punya anak gimana.
29 Januari 2007 at 11:25 am
mungkin lbh enak lg kl suami/istri (sama aja) kerja di/dari rumah..jd lbh sering ngumpulnya (ngeliat pertumbuhan anak2 terutama yg masi kecil)..
29 Januari 2007 at 12:18 pm
Kang Kombor sendiri termasuk yang kolot dan meminta istri untuk di rumah mengasuh anak. Kang Kombor punya pendirian dan pendapat bahwa anak yang diasuh oleh orang selain ibunya (pembantu atau baby sitter) cenderung tidak mendapat kasih-sayang dari pengasuh seperti yang bisa didapat dari ibunya sendiri. Akan tetapi, kalau bekerja seperti yang disebutkan Mas Dani, Kang Kombor setuju. Bekerja itu tidak harus di kantor. Bekerja dari rumah juga bisa dan banyak yang sudah membuktikan.
29 Januari 2007 at 4:46 pm
Istri saya sudah 6 tahun ini berhenti jadi PNS, alasannya:
1. Bisa lebih fokus mengurus anak dan rumah tangga.
2. Kerja di rumah lebih enak dari segi penghasilan dan kerepotan. Maklumlah, pns gajinya kecil tapi banyak rapat, malah keluar duit dan waktu.
Saya sih mendukung keputusan istri, karena punya 2 keuntungan, pertama tetap dapat penghasilan dan yang kedua bisa lebih banyak waktu bersama keluarga.
29 Januari 2007 at 5:45 pm
Saya dan istri sepakat untuk kerja, kebetulan seprofesi diskusinya nyambung nyambung.
Karena latar belakang kami keguruan yah siap mengadi, kalau tidak maka kasihan semakin tertekan karena ilmunya tidak bermanfaat, dan tentu saja penghasilan berkurang. hehehehe.
29 Januari 2007 at 8:37 pm
Tadinya gue berpikir untuk jadi full time mother ketika saatnya tiba (kapan tuuuh… hihihi). Itu dulu, saat gue pikir begitulah seharusnya dan itulah yang gue liat dari nyokap gue yang menurut gue hebat banget.
Trus setelah gue kerja, gue merasa nggak sanggup hidup kalau gue nggak kerja. Apalagi pekerjaan gue sangat menyenangkan.
Tapi gue nggak tau nanti kalau gue punya anak. Emang sanggup ngurusin anak-anak sambil kerja? Gak tau deh gue… Mudah-mudahan gue tetap punya energi dan strategi untuk hidup sehat fisik dan mental dengan multiperan (suatu hari nanti).
30 Januari 2007 at 12:46 am
Kalo saya mungkin akan membolehkan dia kerja lah. Kalo jadi freelance makin oke tuh. Yang penting duty sebagai istri ga boleeeeh lepas. itu yang penting.
30 Januari 2007 at 11:02 am
Saya pribadi, tidak ada istilah seharusnya bekerja, atau seharusnya di rumah. Semua tergantung pada kebutuhan dan skala prioritasnya. Saat ini skala prioritas kami adalah membesarkan Jasmine dengan sebaik-baiknya, dan pilihan terbaik adalah istri mengorbankan karir kerjanya, dan fokus pada karir pengasuhan Jasmine. Kami yakin, bahwa tidak mungkin mengorbankan pertumbuhan anak, hanya demi ego karier orangtuanya. Sejalan dengan hal tersebut, dalam mengembangkan karirku sebagai suami, tetap juga melihat pada kebutuhan Jasmine dan mamanya akan kehadiranku, baik secara fisik maupun dukungan moralku. Katakanlah, aku tidak akan ngoyo ngejar peluang, seandainya ternyata peluang itu, sebesar apapun nilai finansialnya, ternyata harus mengorbankan kebersamaanku dengan keluarga.
Soal 4 hal di atas, aku setuju banget, namun kembali ke masalah prioritas. Aku juga nggak rela, kalau istriku wawasannya cuma sekitar infotainment aja, gara-gara hanya nongkrong nungguin anak di rumah. Aku juga sadar, bahwa stay di rumah butuh pengirbanan luar biasa. Maka sebagai kompensasinya, istriku aku bebaskan mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat baginya, baik untuk ajang sosialisasi, aktualisasi, maupun sekedar refresh dari rutinitas pekerjaan rumah tangga.
Saat ini, Jasmine telah berusia 2 tahun, salah satu tugas istri untuk menyusui telah ditunaikan, sehingga kami sedang merevisi yugas dan kewajiban kami masing-masing. Seandainya istriku mau melanjutkan karir pekerjaannya, aku juga ikhlas, dengan berbagai catatan yang kami sepakati bersama. Intinya, tidak ada sesuatu yang terkorbankan. Hakku sebagai suami terpenuhi, hak dia sebagai istri juga terpenuhi, dan yang paling penting, hak Jasmine sebagai anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang kami berdua terpenuhi.
30 Januari 2007 at 11:03 am
“Dengan segala hormat terhadap apapun yang sudah mereka putuskan untuk hidup mereka sendiri, gue masih percaya kalau baik suami dan istri harus tetap bekerja meskipun sudah menikah. Buat gue, istilah 100% ibu rumah tangga itu udah nggak valid. ”
Setelah punya anak, mungkin pandangan itu sedikit berubah, percayalah…
30 Januari 2007 at 1:46 pm
Gak ada hubungannya sama post, tapi saya baru tahu kalo ternyata Jeruk Fresh Acay udah pindah ke sini sudah sejak dulu dan gak bilang-bilang. Ndak sopan!
30 Januari 2007 at 3:07 pm
Hallo mas cay, enak juga ya kalo punya suami yang ngijinin istrinya bekerja, kebetulan suamiku termasuk yang kurang berkenan istrinya kerja, sebelum punya anak memang hal itu bukanlah masalah, aku kerja dan selalu pulang lebih malam dari suami tetapi setelah ngalamin kehilangan calon anak pertama karena keguguran (dokter bilang karena kecapean & stress) akhirnya aku ‘tobat’ dan kembali kejalan yang benar, he..he alias ngurusin keluarga di rumah, tapi supaya otakku tetap fresh en pemasukkan tetap terjaga, aku ambil jalan tengah aku nerusin sekolah dan bekerja sebagai Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi, kebetulan selain bekerja di swasta aku juga memiliki pengalaman serta jenjang akademik dari Koopertis. Dengan menjadi pengajar, aku bisa tetap mengurusi keluarga dan tetap bisa menghasilkan uang. Ternyata being a mother is not only difficult but its also complicated, tapi aku enjoy bisa nemenin anakku buat PR sekolahnya, bisa mengantarnya les dan hasilnya anakku tumbuh dengan baik, percaya diri serta mandiri. Jadi kalo alasan istri bekerja adalah income maka berikan jalan keluar seperti bikin usaha rumahan atau pekerjaan yang tidak fulltime, semua pasti beres.
30 Januari 2007 at 6:27 pm
Whoaa, banyak amat tanggepannya, hahaha… gue rapel ya Sodara-sodara…
Memang concern-nya sebagian besar adalah anak-anak. Gue ya belom membawa faktor anak dalam paparan di atas, yang bukan berarti gue setuju harus meninggalkan anak buat tumbuh besar sama pembantu, hehehe…
Hari gini, udah banyak perusahaan yang memang secara natural memberikan hak-hak khusus bagi pegawainya yang wanita, supaya mereka bisa berinteraksi sama anak lebih banyak.
Bekerja dari rumah tentunya lebih baik. Temen gue membuka sebuah playgroup di kompleks rumahnya, supaya dia bisa bekerja dekat rumah dan membesarkan anak (keuntungan yang juga dirasakan oleh Mbak Rengganis). Ibu gue juga sampai sekarang masih berswa-karir bekerja dari garasi di rumah.
Poin gue di atas adalah, jangan sampai ada paksaan dari suami bahwa istri kerjaannya hanya ngurusin anak sepanjang masa (maap hiperbola, tapi begitulah kira-kira). Bukan pada hak seorang manusia untuk memaksakan apa yang ia percaya pada manusia lain, seperti contohnya suami maksa istri buat nggak kerja karena harus ada anak yang diurus.
Yang gue kritik di sini adalah masalah “boleh-tidak boleh” dari orang lain, yang semestinya diputuskan oleh sang istri sendiri dan/atau merupakan kesepakatan bersama lewat dialog. Oleh karena itu, gue salut dan menghargai orang-orang seperti Cakmoki, Helgeduelbek dan Dee, yang menyerahkan keputusannya pada istri masing-masing.
Eniwei, gue salah juga, tulisan di atas nggak terlalu jelas. Yang gue maksud sebagai “istri” dalam tulisan di atas sebenernya bukan “semua istri” tapi “istri yang sebelum menikah adalah orang yang memang bekerja” (mohon maklum, ditulisnya jam 2 pagi tuh, huhuhu…)
30 Januari 2007 at 8:09 pm
ada pesan yg tersirat dr komen diatas : nikah, cay….
menurutku juga sama, istri tetap harus bekerja. tapi sekali lagi itu tergantung kondisi dan situasi keluarga, dan yg terpenting komunikasi. jangan kayak kasus Ahmad Dani & Maia yg berantem gara-gara ada yg kurang dirumah.
31 Januari 2007 at 3:30 pm
1. bekerja itu apa harus menghasilkan uang ? soale kalo poin 1 dan 2 nya acay otomatis kejawab dengan menjadi aktivis. contoh istri jadi pegiat Pendidkan Anak Dini Usia dan Posyandu di perumahan
2. poin tiga dan 4 yang intinya kemandirian financial emang ndak tercapai dengna jadi aktivis. aku juga lagi mikir mikir, gimana yah, caranya ? kayaknya emang larinya ke pns guru atau dosen sih …
tapi itu kan klasik, aku pengennya yg usaha dijalanin dari rumah, ndak klasik [semacam buka warung sahaja atau berpns ria] dan incomenya lumayan huehehheeh
1 Februari 2007 at 3:26 pm
Salah satu alasan mengapa saya memperbolehkan istri saya bekerja adalah “menghargai” jerih payah mertua dalam membiayai pendidikannya, sebelum dia menikah dengan saya. Kasihan sudah sekolah tinggi-tinggi lalu kerjaannya hanya di rumah to’.
1 Februari 2007 at 11:44 pm
Sebelum menikah dulu, aku cuman mensyaratkan kepada istri: “bersedia menjadi ibu rumah tangga total, apabila dibutuhkan”. Bagaimana kriteria “dibutuhkan”, nanti dirundingkan kalo udah nikah. Dan ternyata memang ketika mengandung anak, mabok dan mual2 nya bukan kepayang. Ga kebayang kalo pas itu masih kerja, kasian yg menggaji, tp ga bisa kerja
2 Februari 2007 at 6:44 pm
Ada baiknya kita melihat hasil penelitiannya Cornell University
http://www.news.cornell.edu/releases/Jan99/AAAS.couples.strategies.html
intinya:
“Marriages in which the husband is a professional and the working wife is not, also rated high in the life-quality area”
Jadi ceritanya peneliti Cornell ini mensurvey 1600-an sample pasangan suami istri yang bekerja. Konon pasangan yang bekerja tuh tingkat konfliknya lebih banyak, lebih stress dsb dkk. Menarik penelitiannya, dimana dilakukan di negara barat, yang konon lebih permisive pada wanita pekerja.
Anjar: Again, kalau belun punya baby kayaknya mending istri kerja deh, tapi kalau dah punya baby… tung ga kebayang de
2 Februari 2007 at 6:55 pm
[...] Cornell sociologist reports Another point of view: Mengapa istri seharusnya bekerja [...]
8 Februari 2007 at 6:15 pm
Bagus lah kalau banyak pria yang berpikiran sperti abang, karna ada juga beberapa pria yang beranggapan kalo istri bekerja itu merupakan suatu threat bagi suami. Yang harga diri lah, yang masalah kekuasaan lah, de el el.
9 Februari 2007 at 9:55 am
Waa… postingnya menarik. Soalnya lagi mikir untuk resign dari kerja. Dulu pas baru nikah and hamil, masih mampu share waktu antara kerja dan rumah tangga. Abis si kecil lahir, wah.. kok makin ruwet ya? ga konsen di kantor karena kepikiran anak yang ditinggal di sama pembantu (ortu dan mertua jauh di luar kota), apalagi kalo si kecil sakit. Duh, makin puyeng. Tapi kalo full time jadi ibu rumah tangga, ko berat juga rasanya (jujur…). Suami sih tidak pernah mengharuskan bekerja atau tidak bekerja.
sekaligus masih punya my own world untuk dijalani. Semoga segera terlaksana. Salam kenal buat Cay
Jalan tengahnya adalah mo ambil S2. Bisa punya banyak waktu untuk si kecil dan papanya
10 Februari 2007 at 9:24 am
Assalamualaikum wr wb
Maaf kalau saya arahkan pada pendekatan Agama
Fitrah wanita Islam (muslimah) adalah dirumah
Asbab turunnya Rezeki bukan karena “pekerjaan”, tapi karena “ketentuan” ALLAH
ALLAH turunkan rezeki berdasarkan kualitas “TAQWA” bukan kualitas “pekerjaan”
Masa depan tidak sama dengan Masa Tua
Masa depan manusia adalah sebuah Kampung yang Kekal ABADI, Kampung Akherat
Masa depan manusia adalah Kehidupan Sesudah MATI
Bekal untuk masa depan adalah IMAN dan AMAL Sholeh
10 Februari 2007 at 10:36 am
Assalamualaikum wr wb,
Pendidikan anak tergantung ibu nya, bukan sekolah nya, Perpustakaan pertama anak adalah Ibunya.
Hasil Pendidikan Ibu yang TAAT akan menghasilkan anak yang TAAT,
contoh :
Nabi Ismail a.s sekalipun ingin dicelakakan ayahnya (disembelih) beliau TAAT.
Hasil Pendidikan Ibu yang TIDAK TAAT akan menghasilkan anak yang TIDAK TAAT, contoh :
Anak Nabi NUH a.s , ingin diselamatkan malah menolak (KANAN menolak naik ke atas kapal bersama ayahnya Nabi NUH a.s)
12 Februari 2007 at 12:41 am
klo menurut gita istri bekerja tuh pentingnya karena dua:
1. aktualisasi diri
2. nyari masukan tambahan
klo keperluan istri untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia dah terpenuhi dengan ngurus rumah tangga, toh ga jadi masalah..
tapi klo emang dah sekolah tinggi, wawasan luas, ruang lingkupnya untuk mengaktualisasikan diri bertambah besar, maka bekerja jadi solusinya..
klo kerja emang tujuannya nyari duit kayaknya rumah tangga emang bisa jadi keteteran..
.. jadi peran suami yang bimbing istri, supaya jikalau ia bekerja maka perannya sebagai ibu rumah tangga tak terabaikan..
btw jadi ibu rumah tangga itu juga bekerja, berat banget lagi, tapi kemuliaannya dijamin Allah..
tapi meski istri milih jadi ibu rumah tangga 100%, para suami tetep harus bisa melihat dan menghargai istri sebagai individu yang utuh, yang punya hati, punya keinginan, punya mimpi, punya cita-cita, dan punya keperluan untuk mengaktualisasikan dirinya..
karena istri juga manusia, yang tercipta bukan hanya untuk mengebul bersama asap dapur, ataupun jadi lapuk dan tua di rumah tangga..
12 Februari 2007 at 12:50 am
jadi sebenarnya bukan bekerja atau tidak bekerjanya yang jadi masalah.. yang jadi masalah adalah gimana sang suami menghargai dan selalu bisa melihat istrinya sebagai individu yang utuh atau tidak..
13 Februari 2007 at 11:58 pm
ampun cay! kau udah mencuri kepopuleran dunia maya dariku! wah wah… bahaya nih… *pasang strategi handal*
bntar yah… komen yg lebih asoy menyusul setelah pesan-pesan berikut ini.
16 Februari 2007 at 7:27 am
kenalkan aku wahyuning mahasiswa komunikasi Solo.
saya mo ikut nimbrung kasih komentar ya mas.
aku sebagai perempuan punya cita-cita menjadi ibu rumah tangga. kenpa?
mas bisa liat di dunia yang dipenuhi dengan citra wanita karier di media membuat mayoritas temen2ku memiliki keinginan untuk menjadi wanita karir, yang artinya masalah rumah tangga ,mengurus baby, memasak, mencuci dan lainnya0 diserahkan sama pembantu.
Aku nggak setuju sama pemikiran ini, karena menurutku perempuan memiliki kewajiban yang luhur menjadi cahaya dalam rumah tangga. ia tak hanya sekedar mengurus baby, tapi mendidiknya menjadi generasi cemerlang, yang otomatis membutuhkan pendampingan di masa tumbuhnya. kedua, mendampingi seorang suami, anytime.
Aku setuju kalo wanita harus bekerja, tapi bukan berarti bekerja yang muluk2 di kantor 8jam sehari. aku lebih memilih menjadi enterpreneur. aku lebih memilih tetap bekerja dari rumah, tanpa ninggalin kewajiban utamaku. aku akan berikan waktu terbanyak untuk keluargaku.
toh di era komunikais ini. Teknologi informasi sudah semakin canggih. Kita bisa tetap bangun komunikais melalui hp, internet dll.
16 Februari 2007 at 3:21 pm
Sebenernya….seorang ibu rumah tangga adalah juga seorang pekerja, cuman dia/mereka tidak mendapatkan gaji (uang masukan) saja, seperti pekerja kantoran dan pekerja lain sebagainya. Menjadi Ibu rumah tangga juga harus menguras tenaga dan kadang-kadang juga menggadaikan fikiran.
So..bekerja untuk medapatkan uang atau tidak, jerih payah seorang istri perlulah dihargai.
Amat disayangkan jika masa pembesaran anak-anak diabaikan karena seorang ibu pentingkan kereer ( maksud saya bagi anak-anak yang 100%-75% mereka hidup dalam pengawasan pembantu atau baby sitter) . Karena masa kecil sekaligus masa pembesaran anak hanya terjadi satu kali dalam hidupnya….. maka jangan lepaskan waktu untuk mendampingi mereka…
28 Februari 2007 at 11:02 pm
Menurutku,istri kerja/tdk kerja itu hak istri sendiri yg menentukan.
Dulu semasa masih jadi istri + ibu, aku sempat kerja (aku kerja sejak th 89, sewaktu masih kuliah). Setelah ditinggal suami, aku masih kerja tapi anakku sempat terlantar. Mulai akhir th. 2005: aktivitas mulai berkurang. Krn anakku bikin gara-gara terus (pipis/beol di dressing room, ngecat WC sekolah, cerita sama psykolog sekolah kalo ibunya terbang terus, dll), jadi 2006 memutuskan nganggur 100% untuk ngurus anak saja & hidup dr santunan pemerintah perancis. Mana sekarang punya anak ke-2, single parent lagi, jadi aku punya hak tdk bekerja sampai anak ini umur 3th & tunjangannya = orang bekerja+bebas pajak.
Aku tdk kecewa kalau dulu sekolah tinggi-tinggi akhirnya di rumah saja. Banyak sekali manfaatnya:
- anakku suka sekali makan jika aku yg masak, padahal dulunya susah sekali makannya.
- prestasinya di sekolah meningkat
- di rumah: selain bermain & belajar, dia juga mengatur kamarnya sendiri & mulai belajar memasak (telur kecap, nasi, kue dadar) padahal umurnya baru 7th.
- saya mengajar dia bhs inggris & matematika praktis, sekarang kami berdua belajar bhs spanyol krn liburan musim panas th ini kami akan ke barcelona.
- berdiskusi, berdansa, bernyanyi bersama, nge-net bareng
- dan banyak lagi
kita jadi tahu perkembangan anak dr waktu ke waktu.
utk masalah sosialisasi:
- aku ikut annggota orang tua murid : minggu lalu ikut demonstrasi di walikota utk menentang penutupan beberapakelas & penggurangan tenaga guru. aktif membantu mencari dana utk kegiatan anak-anak supaya semuanya gratis(tour/kunjungan, berenang, nonton bioskop, hadiah natal, dll).
- jadi tempat penitipan anak.
- jadi relawan di sekolah/kegiatan sosial
jadi menurutku: tetap juga wanita hrs sekolah tinggi-tinggi demi anak & hrs belajar terus mengikuti jaman.
kasihan anak-anak jika pembantu/baby sitter yg transfer intelektualnya ke anak-anak kita.
17 April 2007 at 12:25 pm
istri saya kerja di luar rumah, anak kami yg msh balita cenderung tersakiti hatinya, saya kasihan sekali, selalu tak tega melihat matanya tiap kali pamitan. selalu si balita terlihat tdk mengerti tiap kali akan ditinggal , ‘why it happens to me, di tiap awal hari? lihat mom, langit pagi ini cerah dan aku ingin bermain2 dgn mu. berlalu begitu sajakah canda tawa kita semalam? tak cuma malam saya inginkan asi, tak hanya asi-nya yg ingin saya sedot, tapi juga kasih sayangmu. bahkan seringkali aku cuma ingin berdekatan dgnmu saja’. begitulah y saya tangkap dari mata balita kami. solusi sdh sy tawarkan utk kerja dari rumah sblm batas wkt balita habis dan si balita berubah menjadi anak yg unpredictable (who knows kan, melihat kekurangan kasih ibu sejati meski ada babby-sitter).
saya nyeri dada sendiri ngliat mata si kecil hampa, tiap kali kami pamitin.. *hiks*
dan tahukah hasil kerja istri saya? ironisnya semakin ke sini semakin lebih banyak bikin kisruhnya. terus terang saya lebih menghargai istri saya jika saja dia di rumah saja, atau bekerja dari rumah. apapun alasannya, meski incoming cash-flow berkurang, tapi tdk nyeri dada setiap pagi.
21 April 2007 at 1:46 pm
Menarik Cay. dan dari komen2nya di atas gue sarikan bahwa smua melihat dari dua kutub. hitam putih. sdangkan, smua hal ketika menikah kan bisa ada kompromi.
kalo ngomongin kodrat, emang perempuan itu (spertinya) adalah di rumah. namun, bukan brarti dari dan di rumah gak bisa berkarya, mengaktualisasi diri dan bersosialisasi. (walopun sosialisasi dan (kemungkinan besar) isi wawasannya memang muter2 di urusan rumah tangga dan perempuan juga.. bisa jadi karena itu isi komunitas sosial yang available, atau memang udah gak minat buat hal2 yang lebih ilmiah)
anyway, untuk itu, baik istri maupun suaminya mesti kreatif dan lagi lagi kompromi untuk urusan anak, dan disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.
yang gue sayangkan, kadangkala banyak suami yang taunya cuma ngajak maen anak, bahkan in the worst case, lepas tangan soal anak dan rumah tangga. “itu kan urusan istri, itu knapa saya lebih pengen kamu di rumah ngurus anak daripada kerja”. kira2 bgitulah. spertinya, asalmula tulisan loe ini dari kalimat serupa ya pak?
kembali soal si suami di atas yang menurut gue egois itu. iya, perempuan adalah ibu, yang secara natural ada kewajiban ini dan itu. tapi itu anak bikinnya berdua kan? jadi, apabila setelah mempertimbangkan situasi dan kondisi, apakah kalian, para suami (terutama yang beranak) akan rela jadi orang rumahan? misalnya, secara finansial penghasilan istri lebih bisa diandalkan untuk makan sehari2 dan tabungan masa depan, sedangkan satu orang tua mesti di rumah buat si anak mengingat gak rela anak diasuh penuh oleh support group (babysitter, pembantu, sodara, etc).
buat perempuan2 yang beruntung mendapat suami yang menghargai dirinya seutuhnya, salah satunya dengan setuju istrinya (tetap) bekerja, ya jg jangan lupa diri. itu juga kali yang ditakutkan suami2. (kayak dani ahmad itulah..)
memang, pada kasus tertentu, untuk perempuan butuh 2x effort buat sukses dan diakui dibanding laki2, tapi kalau suami juga support, gue rasa gak ada masalah yang akan berlarut2.
komentar atas penelitian bahwa pasangan bekerja cenderung lebih stres dan sering berantem, gue gak yakin itu ada hubungan langsung atau hanya dipengaruhi krn mereka 2-2nya bekerja. menurut gue, itu karena kemampuan komunikasi keduanya yang bermasalah aja.
oya, gue menikah dengan satu bayi perempuan umur 10 bulan, dan suami mendukung (bahkan mendorong) gue untuk bekerja penuh bila gue ingin. Alhamdulillah alasan itu bukan karena suami tidak bisa mencukupi kebutuhan finansial. dan kami tidak parno soal mental anak kami nantinya. sama2 dipikirin strateginya lah.
memang, balita akan punya tatapan penuh makna kecewa tiap ditinggal orangtuanya. (gak cuma pas ibunya pergi loh!). mungkin gue bisa tawarkan perspektif baru bahwa anak juga perlu belajar tentang dunia, dan gak semuanya itu indah.
- ditinggal mama pergi kantor emang gak indah, tapi bukan berarti mama gak sayang. nanti malam mama tetep bisa peluk kamu lama2. hari libur kita bisa belajar dan main bareng. –
wong anak gue juga punya tatapan itu tiap suami brangkat kantor. bahkan minta ikut masuk naik mobil. hehehe..
dengan orangtua sering2 membaca dan sharing dengan sesama orangtua yang wawasannya luas juga membantu. jangan sering ngobrol sama orangtua yang kita kira juga cupek, ntar kita ikut2an cupek dan salah kaprah.
gue liat banyak orangtua bekerja yang sukses mengantarkan anak2nya jadi sukses. knapa gak liat fakta itu juga? penting buat mem-balance fakta keluarga yang ibunya ful di rumah tapi anaknya tetep narkoba.
reply ini memang sangaaat panjang. lagi mood nih..
28 Mei 2007 at 12:20 pm
Nunggu postingan baru kok nggak muncul-muncul ya!
28 Juli 2007 at 2:08 am
Cay, with all do respect, hendaknya keputusan untuk bekerja, menjadi homemaker, atau menjuggle keduanya, adalah mutlak di tangan sang isteri. Tidak adil rasanya memaksakan kehendak atas isteri untuk bekerja mengingat tanggung jawab mengurus rumah tangga tetap berada ditangan isteri se-egalitarian apapun sepasang suami-isteri.
Sebagai seorang wanita, saya tidak memerlukan seorang pria untuk menentukan apa yang seyogyanya menjadi pilihan hidup saya.
5 Agustus 2007 at 3:28 am
hee gue sejalan ama mama farell, kerja fulltime di singapur menyebabkan lembur tiap malam, mending gue quit aja. ambil s2 plus kerja part time di kampus lebih menunjang demi fleksibilitas dan waktu untuk anak dan suami, apalagi krn ga ada pembantu. “Bekerja” ga mesti di kantor toh.. bisa juga di rumah. intinya ga berenti “berkarya” aja kali, soal rejeki, tentunya ada aja jalan.. tapi tidak semua orang bisa dapet arrangement yg enak kayak gue gitu, ada banyak kasus keluarga dimana suami istri kudu kerja dua2nya, ya silakan aja. balik lagi ke masing2 sih ujung2nya.. tapi kalo istri di rumah lantas dilarang pegi2 ama suami, ga dikasih akses internet, ga boleh mengaktualisasi diri, ini baru kasian…
28 September 2007 at 7:23 pm
yah.. beruntunglah yang istrinya masih bisa bekerja…
1 Oktober 2007 at 4:21 pm
kalo alasan gw mengijinkan istri bekerja, kalo umur gw pendek anak-anak gw bisa tetap makan, sekolah, dll. Intinya masa depan anak & istri gw mudah-mudahan bisa tetap terjamin biarpun gw dah ga ada.
1 Oktober 2007 at 4:39 pm
Dul Somad,gw rasa ketaqwaan ama rezeki kurang ada relevansinya deh, contoh Paris hilton (Bintang film blue) duitnya banyak
orang bokek/ ga punya duit/ miskin/kufur adalah pangkal kafir
berdoa aja ga kerja-kerja, ya tetep aja kere
9 Juni 2008 at 11:46 am
tidak semuanya begitu…….
sebenar tergantung financial keluarga tersebut.. kalau udah bebas fiancial…….ngapain harus bekerja…..tapi kalau keluarga yang baru hidup atau memulainya dari nol ya wajar2 aja istri bekerja menurut saya malah dengan hasil keringatnya sendiri istri merasa senang dan terhormat……………..
1 Maret 2009 at 7:44 pm
menurut ssya wanita itu harus “bekerja”, dalam tanda kutip yaa…
Bekerja tidak harus bekerja kantoran, bisa bekerja di rumah, dan yang terpenting lagi “wanita” harus punya kemampuan sehingga tidak 100 % tergantung pada suami.
kalo menurut aku, wanita ga bekerja belum tentu lebih ngurus keluarganya…. hiii..hhiiii banyak lho contohnya. tapi balik2 sesuai dengan kesepakatan aja deh, yang penting wanita harus punya “kemampuan,
salam