Bangsa Pencari Kesalahan Orang
Tadi sepulang makan siang, gue sempet ngobrol sama seorang diplomat senior Indonesia. Sambil minum secangkir kopi anget di teras kantor dan diisi obrolan sana-sini (dari saran-saran buat beli notebook sampe tragisnya banjir Jakarta), di satu titik beliau bilang:
“…Kamu tau, ada yang salah dengan sistem di pemerintahan Indonesia: negara ini mengabaikan yang berprestasi, tapi kalau salah, dihukum dan dihujat habis-habisan. Hampir di seluruh struktur sistemnya begitu: Kalo kamu bikin prestasi 9 kali, prestasi itu bisa luntur gara-gara kesalahan 1 kali. Andai kamu berinisiatif dan kamu berhasil, kamu bakal dikasih selamat, and that’s about it… tapi sekalinya gagal, that’s your fault and you bear the risk. Itu makanya daripada mengambil inisiatif, lebih baik pegawai negeri itu diem aja. Kalo diem kan setidaknya nggak mungkin buat salah, dan kita aman-aman saja, tho?”
Terlepas dari kenyataan bahwa Pak Diplomat ini adalah bagian dari sistem itu (sehingga ‘pembelaan-dirinya’ ini patut dipertanyakan), sedikit banyak pernyataan beliau ada benarnya juga. Gue perhatiin para diplomat dari Indonesia (baik staf di Kedutaan maupun peserta di beberapa kegiatan yang kebetulan gue ikuti) lebih banyak hati-hati dalam bereaksi terhadap suatu perkara, dan ini cenderung dipersepsi sebagai suatu kelambatan.
Berkebalikan dengan diplomat dari beberapa negara lain (yang kebetulan juga gue temui) yang umumnya lugas dan cekatan, sehingga terlihat sangat kompeten, para duta dari Indonesia ini justru sering terlihat ragu-ragu dan malah memilih untuk nggak ikut-ikut kalau ada suatu diskusi atau perbincangan sejenis. Kalaupun akhirnya memutuskan sesuatu, biasanya keputusannya lebih ke arah status quo alias nggak mengubah keadaan secara signifikan (a.k.a “keputusan cari aman”). Pantes aja mereka milih diem, karena ternyata risk-nya lebih besar dari reward-nya.
Apa itu akibat kultur bangsa yang lebih senang menyalahkan daripada menghargai? Mungkin. Ngeliat buteknya kopi di cangkir, gue jadi keinget contoh nyata dari banjir di Jakarta barusan. Begitu kebanjiran, semua jari buru-buru menuding dan mulut menghujat Sutiyoso. Seolah-olah lupa kalo ada berton-ton sampah yang dibuang jutaan warga secara sembarangan; seolah menutup mata pada kenyataan bahwa banyak pihak pemerintah lain yang ikut berperan (antara lain fakta bahwa dana penanganan banjir udah dipotong gila-gilaan di DPRD); dan yang paling relevan di sini, seolah-olah Sutiyoso sama sekali, blas nggak punya jasa selama bertahun belakangan ini.
Sambil nyruput kopi dan merenungi contoh-contoh lain (mahasiswa yang demo anti tirani tapi serampangan di jalan raya; rakyat yang ceplas-ceplos anti korupsi tapi mbayar calo buat bikin SIM; bangsa yang nyalah-nyalahin negara lain padahal negara sendiri masih [ke]banyak[an] bolongnya), gue semakin yakin kalo omongan Pak Diplomat itu ada benarnya. Bangsa tercintaku ini terlalu hobi menunjuk dan menelisik kesalahan orang lain. Saking hobinya, seringkali sampe lupa buat melihat kalau sebenarnya banyak hal-hal lain yang bagus dan bisa kita ambil dan pergunakan untuk membuat bangsa ini maju.
9 Februari 2007 at 12:48 am
Selalu melihat sisih buruk maka yang timbul jelas keburukan terus, kapan bagusnya yah?
9 Februari 2007 at 3:51 am
Saya turut prihatin dengan tulisan anda ini. Bangsa Indonesia adalah “Bangsa Pencari Kesalahan Orang”. Jika memang benar, itu merupakan kenyataan yang menyedihkan sekaligus sangat memalukan. Tetapi ada satu hal yang membuat saya lebih prihatin lagi yaitu, tulisan yang tadinya saya kira cuma sekedar iseng belaka ini ternyata jatuh dalam kategori “Suara Hati”. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah tulisan di atas benar-benar keluar dari suara hati anda atau cuma sekedar mengutip kata-kata pejabat belaka?
Tapi jangan berkecil hati. Karena jika tulisan anda benar, justru akan membuktikan bahwa anda benar-benar tulen orang Indonesia sejati. Buktinya: 1. Anda turut menyalahkan bangsa sendiri sebagai “Bangsa Pencari Kesalahan Orang”, 2. Anda memutus untuk “lebih amannya” pro dengan kata-kata dari seorang pejabat karena anda tahu pejabat tersebut mungkin akan membaca tulisan ini.
Semoga gelapnya kopi tidak turut menggelapkan hati anda.
Feb 10 2007
Suara hati dari satu ruangan kecil di Raffles Place
9 Februari 2007 at 9:42 am
@helgeduelbek:
Betul Pak Guru, yang terlihat memang tergantung apa yang kita pilih untuk kita lihat. Jadi sisi bagusnya mungkin bakal nongol kalo kita akhirnya capek ngeliat yang buru-buruk terus Pak, dan akhirnya memilih untuk melihat yang bagus.
@suara-hati-yang-sembunyi-tanpa-nama:
)
Terima kasih kalau Anda prihatin, tandanya gue nggak sendirian prihatin. Memang harapan jangka panjang tulisan Kata Hati ini adalah sebuah ‘appeal’ untuk orang-orang yang satu keprihatinan untuk bisa memulai perubahan barang sedikit saja, dimulai dari dirinya sendiri dan sekitarnya. (BTW, gue ngakak ngeliat argumen nomer 2, yang seolah mengasumsikan gue anak buah si pejabat atau malah bagian dari sistem itu. FYI saja, gue staf non-pemerintah yang nggak ada hubungan apa-apa sama si Pak Diplomat di atas itu. Lagipula Anda kayaknya melewatkan bagian tulisan di mana gue mempertanyakan obyektivitas pernyataan beliau
9 Februari 2007 at 3:32 pm
mas cay, saya ini punya sim A dan sim C hasil nembak alias bayar calo, tapi bukan berarti saya tidak bisa mengendarai motor atau mobil, sebabnya karena emang ribet banget, dan tidak efisien secara waktu kalo harus lewat jalan normal. tapi tetep saya sering protes terhadap adanya korupsi atau koruptor gede2an. Koruptor gede2an itu harus diprotes terus, bila perlu ditangkap dan dihukum semuanya, karena mereka seenggaknya ngasih contoh sama koruptor2 kecil. Korupsi gede aja kok ga ditangkap.
Mungkin sistem yang ada ga mempan untuk menghilangkan korupsi2 yang kecil.
Salam kenal juga yah!
9 Februari 2007 at 9:51 pm
Ya dulu kan di SMA juga kayak gitu…
10 Februari 2007 at 2:04 am
ijin berkomentar..*maklum saya rakyat kecil =)
Namanya juga komentar kadang seenak udel-nya klo ngomongnya. beda klo udah ngerasain sendiri gimana senang/susahnya jadi pejabat.
cuman..
yang saya liat kok kayaknya pejabat indo itu emang bermain safe aja yah. kerja ya kerja sesuai dengan semestinya. cuman kayaknya kurang ’smart’ aja gara2 punishment > reward. Harusnya mereka berpikir bahwa pemerintah adalah suatu company yang lg ngejar deadline ato profit *ya buat rakyat. Jadi kerjanya itu ga asal2an ato mengikuti jejak langkah pendahulu tp mencoba hal2 baru yang lebih ’smart’ and ‘efficient’. au’ ah gelap
10 Februari 2007 at 8:40 am
mentalitas untuk memberikan yang terbaik dikalahkan oleh sistem yg tidak memberi ruang bukannya ?
11 Februari 2007 at 1:56 am
Makanya konon yang pinter pada keluar negeri (ngga nyindir lho), karena di sono lebih dihargai dari segi kompetensi.
Di sini, kebanyakan yang “dekat” atasan bakal lancar kariernya, jadi saya nggak heran cerita Mas Cay jika pejabat kita nampak “ragu-ragu” dibanding negara lain.
11 Februari 2007 at 8:13 am
saya setuju dengan opini anda, namun ragu bila kecenderungan melihat yang jelek adalah sifat khas indonesia. alih-alih menjelaskan, asersi semacam ini menimbulkan lebih banyak pertanyaan (darimana asal sifat ini? mengapa indonesia? sejak kapan? ‘bangsa indonesia’ yang mana? dsb). sikap cenderung mengkritik adalah fenomena situasional bangsa (dan individu) yang sedang terpuruk manapun, ketika hal-hal yang dapat dibanggakan telah habis terkuras — dan tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain menyalahkan. sehingga menjadi tugas para pemimpin dan intelektual untuk mencerahkan publik agar kritik yang diberikan bersifat konstruktif dan tetap berimbang.
11 Februari 2007 at 12:06 pm
ah ya…
mungkin sama juga bagi pejabat atawa bagi rakyat sperti sayah. kerja is kerja.. *ya, lingkaran setan yg itu lagi* dimana idealisme awal tertelan sama process n progress untuk menuju goal akhir.. – itupun kalo masih punya goal..-
ini bukan pesimis, tapi lebih kritis melihat realita. hehehhe…
12 Februari 2007 at 6:21 am
yayaya bener semua salah kok… suka mau gampangnya dan merasa aku bikin kesalahan kecil gpp, klo yg besar baru ga bener smtr yg bikin kesalahan besar bilangnya…lha besar atau kecil sama aja kok dosanya…huehuehue… lha gimana mau membangun klo begitu ya…jd bingung mana ayam mana telur yg diduluin…
BTW kerja di deplu ya mas? atau lokal staf di kedutaan? Salam kenal ya… salam buat pak dubes…wah sok akrab…neeh…?
aku add ya… mo bikin postingan juga ah…
12 Februari 2007 at 7:46 am
[...] kalau di blognya mas Cay dibilang orang Indonesia ini bangsa yang suka menuding? Lha sing ngajari sopo to [...]
12 Februari 2007 at 9:28 am
Bukan cuman jadi bangsa pencari kesalahan orang, tapi bangsa yang suka main hakim sendiri juga dan hanya memikirkan keuntungan diri sendiri (mungkin mikir kalo susah hidup di sana apalagi kalau di ibukota)
12 Februari 2007 at 12:58 pm
aku pikir ini udah sifat manusia, nggak tergantung bangsanya dari mana.
dimana-mana juga ada… suka mencari kambing hitam, nggak mau melihat kesalahan dari dirinya sendiri…
12 Februari 2007 at 1:03 pm
sebagai contoh aja, partai republik amrik sekarang. mereka menyalahkan iran dan syria dalam konflik irak.
dalam interview tv minggu kemarin waktu pas lagi rame2nya banjir, antar instansi malah saling menuding dan terkesan nggak mau disalahkan.
12 Februari 2007 at 1:45 pm
Semangkin lama semangkin berat aja nih bahasannya. Tapi gue (seperti biasa)terkesan dengan cara penyampaian yang cukup lugas dan santai tapi bisa mendeliver contentnya.
Suara hati Om Atjay ini memang arguable, tapi fenomena tuding2an di Indonesia memang udah bisa dibilang kelewat batas. Dalam artian, gue setuju dengan comment Bung Tirta dan Mas Khaidar, di mana pun dan kapan pun, kalau ada kesempatan dan kemungkinan, manusia normal (yg bukan nabi atau orang suci) pasti timbul suara dari sudut gelap dalm hatinya untuk meminimalisasi efek dari kesalahan yg diperbuat. Ya paling gampang nyalahin orang lain. Ngga cuman di Indonesia ya, tapi di banyak negara2 berkembang dan terbelakang lainnya ini sering terjadi. Tapi satu hal yg bikin kasus di Indonesia menarik perhatian lebih… ya, karena kita kebetulan orang Indonesia ya. Ngga salah dong kalo meng-highlight yg di Indonesia
Bukan begitu, Tjay?
Trus gue nda sreg dengan kesimpulannya Jeng Suara Hati anonymous di Raffles Place yang sepertinya menyamakan dengan begitu saja antara renungan dengan kritikan dengan menyalahkan orang lain.
*kok gue malah nanggepin tanggepan orang yak.. iseng bener…*
12 Februari 2007 at 1:49 pm
@ grandiosa12: Kalo saya ngeliatnya, korupsi kecil-kecil itu akumulatifnya jadi korupsi besar lho Kang. Duit dari SIM nembak itu, kalo dikumpulin seantero Indonesia, bisa-bisa lebih dari 49 milyar yang bobol dari BNI itu. Apakah itu berarti korupsi SIM bisa dimaafkan karena manfaatnya lebih ke orang banyak? Hehehe…
@apranum & papabonbon: Mentalitas “memberikan yang TERBAIK” –> bukan berarti 100% harus baik, tapi lebih secara relatif baik dibanding yang lain. Jadi ngaku salah juga sebenernya nggak papa, asal udah berusaha berbuat yang terbaik.
@abay-kun: “Gaya berpikir seperti di company” nggak dateng otomatis, tapi butuh lingkungan yang suportif, antara lain ngasih reward-punishment gaya company. Pastinya sih di Indonesia jauh dari sistem reward-punishment masih jauh dari gaya semacam itu, heheh…
@cakmoki: Setuju Cak. Anyway, saya nggak berniat kabur kok (meskipun mungkin keliatan gitu ya, heheh), doain aja semoga sebentar lagi pulang ke Tanah Air
@tirta: Setuju Pak Tirta. Makanya itu saya sebenernya berharap setidaknya tokoh panutan ini bisa dimulai dari atasan untuk nggak tunjuk-tunjukan, supaya ada top-down approach yang menjadikan suasana Indonesia lebih kondusif. Tapi sayangnya memang belum ada tanda-tanda ke arah sana ya…
@binz: Kalo dari sudut pandang gue, dengan situasi yang lebih rewarding, maka “kerja adalah kerja” bisa dibawa ke arah yang lebih win-win solution buat both pekerja dan tempat bekerjanya.
@senyumsehat: Bingung juga ya Dok, mau mulai dari mana.. Apa dimulai dari awal aja (dibubarin dulu negara kita, hehehe…)? Gue bukan diplomat ataupun staf lokal Dok, tapi staf di salah satu organisasi internasional. Kebetulan ada beberapa diplomat Indonesia ditugaskan di sini, dan juga jadi sering ketemu diplomat-diplomat lain.
@Tetangga: Paling horor sih menurut gue kalo main hakimnya udah sampe ke konteks penghilangan nyawa orang lain, edun pisan dah…
@Khaidar: Mungkin benr sifat bawaan manusia ya… tapi memang karena faktor eksternal, ada tempat-tempat di mana “tuding-tudingan” ini keliatan lebih menonjol dibanding tempat lain, hehehe…
12 Februari 2007 at 2:59 pm
[...] oleh papabonbon di/pada Februari 12th, 2007 Terinspirasi dari tulisan acay dan wadehel, papabonbon pikir, perlu juga lah, ikutan meramaikan polemik soalan [...]
12 Februari 2007 at 3:36 pm
nice perspective…. memang yang sebenernya jadi masalah kita selama in adalah bagaimana mengubah kultur kita. so it’s been our job to change it, at least start from ourself loh.
13 Februari 2007 at 5:20 am
Yup, saya setuju dengan Ben Aga. Nice perspektif.
Sebenernya saya juga setuju dengan konsep do-blog. Mereka nggak cuma ngomong… mereka menulis… dan dunia membaca tulisan mereka.
Anak-anak Indonesia, jauh di kampung orang. Ngeliat negerinya berantakan, bingung. Nggak bisa berbuat apa-apa, karena sudah pesimis duluan. Untung ada blog. Bisa menulis, bisa berbagi, bisa saling mendukung.
Setidaknya, nulis di blog ini, sudah termasuk ajang diskusi. Setidaknya bisa diskusi dengan seseorang yang dengan santainya berdiskusi dengan seorang diplomat senior.
Hehehe… salam kenal deh.
13 Februari 2007 at 4:46 pm
setuju, tapi juga kadang-kadang diplomat perlu juga diingatkan, banyak sekali diplomat yang ngawur tapi nggak sadar-sadar akan kengawurannya, lha….. orangnya sangat kaku nggak bisa dkritik secara halus, terus….!
13 Februari 2007 at 10:54 pm
Kang Kombor jadi bingung. Di satu sisi bangsa ini pencari kesalahan orang. Di sisi lain, bangsa ini pemaaf dan pelupa. Kalau begitu kan bisa disimpulkan bahwa bangsa kita ini bangsa netral. Mencari kesalahan orang bisa dinetralisisr dengan memaafkan atau melupakan.
Ternyata bangsa kita ini punya banyak kepribadian yang saling bertentangan ya… Bangsa leda-lede.
Bangsa eca-eco.
Bangsa pela-pelo.
Bangsa esok dhele sore tempe.
Alias bangsa plin-plan.
Lucunya, kita semua ini bagian dari bangsa itu. Menunjuk bangsa ini berarti menunjuk hidung sendiri. Menulis tentang bangsa ini layaknya menulis tentang diri sendiri.
13 Februari 2007 at 11:55 pm
buset cay! baru kali ini gw liat blog loe ramai dan banyak pengunjung! komen pun nampol pula! bentar yah… gw akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini
pusing bacanya euy! ntar komen lebih lanjut yah!
14 Februari 2007 at 12:17 am
@kang kombor
saya kira mungkin itu tergantung bagaimana kita melihatnya, suatu hal pasti bisa dilihat dari berbagai sisi, sama halnya sperti kasus ini.
Menulis tentang diri sendiri juga hal yang baik sebagai ajang kita untuk introspeksi diri.
That’s what my “Managing and Resolving Conflict”’s tutor told to me, hehehehe. :p
15 Februari 2007 at 11:09 am
Kok nda ada tulisan baru? lagi ngubah website kantor yah?
17 Februari 2007 at 11:40 pm
“panas” gini yah topiknya, kami kangen kebanjiran “jeruk segar” hahaha
24 Februari 2007 at 12:46 pm
update…masss…
25 Februari 2007 at 2:48 am
update dunkz Mbah, lagi terapi rematik yah? Gyakaka
25 Februari 2007 at 12:37 pm
sudah saatnya kita mengembalikan akhlaq mulia bangsa ini dengan iman dan taqwa
6 Maret 2007 at 12:45 pm
saya kerja di struktur diplomasi indonesia, dan saya setuju bahwa terkadang para diplomat terlalu hati2, sehingga bisa ditafsirkan lamban mengambil sikap.
sistem berpikir yang menggunakan pendekatan “kuman di seberang lautan” ini sebenarnya tidak hanya ditemui di instansi2 pemerintah. di masa sekolah murid juga cenderung enggan bertanya banyak atau menjawab pertanyaan lain dari yang digariskan oleh pihak sekolah/depdiknas karena respon yang diberikan sangat discouraging. sekali lagi saya setuju, cay, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang gemar mencari kesalahan orang. buat menutupi keminderan? mungkin
.
satu hal lagi, kalau boleh saya share di sini, yang membuat langkah diplomat indonesia tersendat adalah kurangnya informasi dari pusat mengenai kebijakan tertentu. akibatnya ketika diplomat indonesia – terutama di level bidak – memberikan pernyataan tentang suatu isu, misalnya, sering pada tataran yang sangat umum, karena kuatir “mendahului” dan malah akhirnya salah. bukan mau membela deplu ya, tapi kurangnya info itu sering berasal dari instansi teknis lain. mungkin karena struktur organisasinya yang sangat besar, ya, sehingga perjalanan info sampai ke yang minta bisa lama, dan sering malah tidak ada sama sekali, hehehe…
8 Maret 2007 at 2:09 am
Apdet dong! jeruk segar jeruk segar..!
13 Maret 2007 at 5:11 pm
bukan hanya bangsa kita mas. dan bukan hanya pemerintah yang kayak gitu. kita lihat aja para manajer perusahaan, mereka seperti ditakdirkan untuk hanya melihat kesalahan para bawahannya, tanpa bisa sekalipun melihat kebaikan para bawahannya (kalo atasan sih jelek juga dianggap baik….)
salam kenal mas cay.
ijin bikin link
3 April 2007 at 5:32 pm
APDETTTT!!!! ayo APDEEETTTTT!!!
21 Mei 2007 at 12:44 pm
halah secara naluriah kita selalu saja atau sering atau kadang menggunakan SDM
“Self Defend Mechanism”
Cara paling gampang ya… nyalahin orang lain aja lah… he he he Gampang simple… gak pusing pusing…
1 Juni 2007 at 12:44 pm
critizing one’s self openly is e beginning of better self awareness.
i believe and hope so.
link y bro
19 Agustus 2007 at 9:14 pm
Awali perbaikan bangsa ini dengan memberikan contoh yang baik. Ga usah neko2, ga usah besar-besaran, yg penting dari diri sendiri.
Link 2 u, bro
1 Oktober 2007 at 4:44 pm
update m,an
8 Oktober 2007 at 1:53 am
pertama, update om!!
kedua, baru nyadar kalo nih obrolan cukup panas disini..hehehe..
pengen komen, kayanya konsep tuding menuding itu emang ada di seluruh manusia deh.. namanya insting.. yah, insting buat melindungi diri sendiri tepatnya.. jadi bukan cuma indonesia kayanya yang nyari2 kesalahan orang.. cuma mungkin kita aja yang belum tau aselinya negara atau pemerintahan laen.. gitu.. tapi lagi2, karena kita orang indo, dan masih peduli sama indo, jadinya yang kita bahas ya indo.. beguti.. ^^
trus ketiga, numpang lewat.. ^^
26 Oktober 2007 at 10:36 am
Mungkin salah satu dampak dari play safe dan mencari kesalahan orang lain ini justru membuat orang-orang dalam sistem mudah terhanyut.
Kalo kasus bikin SIM, bisa jadi efeknya ikut menghanyutkan orang di luar sistem. Muaranya korupsi berjamaah yang mendatangkan tsunami keambrukan.
Ujung2nya, semua dianggap tidak kompeten. Bangsa jadi skeptis.
6 November 2007 at 4:57 pm
back to your self. sudahkah kita berbuat benar thd bangsa ini?
28 Desember 2007 at 7:21 pm
kok gak pernah di update B
tautken ke http://kertasputih.wordpress.com/ ya B
thx n semoga sukses
30 Desember 2007 at 9:59 am
Memang di luar dugaan gue, komentarnya rame juga ya, hahaha… Ada satu permintaan yang bakal segera gue penuhin: meng-update blog
11 Februari 2008 at 4:33 pm
Janji tinggal janji. Mana apdetannya wekekek :p
16 April 2008 at 11:07 pm
helo-helo, mo kasi tau perubahan link, sekarang di
http://www.andiewicaksono.com
sukses terus Cay…..makaci makaci…