Buku Perdana: Dramaturgi Komunikasi Politik Jokowi!

Ditulis 6 Maret 2013 oleh Cay
Kategori: Sehari-hari

Sebenarnya bohong juga kalo dibilang ini buku perdana. Sebelumnya gue pernah juga menyunting buku. Tapi ini adalah buku pertama yang bener-bener kontennya gue tulis dari enol.

Cover "Drama dan Citra Jokowi"

Cover “Drama dan Citra Jokowi,” tersedia di http://www.nulisbuku.com

Ya, inilah tesis gue yang udah jadi buku. Meskipun masih bernuansa tesis banget – logika penulisannya – tapi semuanya gue tulis ulang, supaya bahasanya nggak terlalu kaku dan lebih mengalir.

Saat ini bukunya tersedia eksklusif di website www.nulisbuku.com. Sistem ini sebenernya bikin hidup jadi lebih gampang, karena peminat tinggal pesen bukunya, transfer ke nulisbuku.com, dan nanti bukunya akan diantar ke alamat pengiriman. Gak perlu ke toko buku!

Jadi, mari-mari dibeli di www.nulisbuku.com, itung-itung buat nombok uang kuliah, haha!

Menjelang Penuntasan

Ditulis 5 Juni 2012 oleh Cay
Kategori: Komunikasi Publik

Buat yang belum tau, saat ini gue di hari-hari terakhir penghabisan kuliah. Setelah itu -semoga- bisa sah menyandang gelar Master of Something Something.

Tadinya gue sangka menyandang gelar seperti itu akan terdengar ciamik dan asik. Tapi setelah melewati proses ini, akhirnya yang ada di kepala bukan gelar lagi (meskipun masih ada pemikiran bahwa gelar itu asik). Proses pencapaian itu -ternyata- lebih penting. Dan ini bukan cuma sok jadi motivator “proses lebih penting dari hasil akhir.” Ini sungguh dari kata hati terdalam.

Khususnya 6 bulan terakhir: Di Januari, untuk keperluan tesis, gue memutuskan untuk mengambil sebuah penelitian yang nggak umum dilakukan oleh peserta pascasarjana kelas eksekutif – karena umumnya jamaah kelas ini nyambi kerja di pagi harinya, seperti gue. Penelitannya berada di lapangan selama 1,5 bulan, yang berarti gue harus keluar dari kerjaan.

Dan keluarlah gue dari kantor. Satu bulan terlewati di sebuah kota yang gue hampir nggak pernah kunjungi, kecuali waktu masih kecil saat transit en route mudik ke kampung halaman ortu. Kota yang asing, tidak ada satupun yang familiar kecuali satu-dua teman. But I thought it would be fun.

And it was. Pengalamannya luar biasa, sampai gue akhirnya bisa mendapat bahan tesis banyaaak sekali, sampai gue bisa ngetik jauh lebih banyak dari dugaan gue… dan itu masih ada bagian-bagian yang -sayangnya- harus gue buang, selain karena nggak terlalu relevan, juga karena jadi kepanjangan (cape bo!).

Cerita mendetil akan datang pada waktunya. Kali ini cuma catatan sementara, sebagai pengingat bahwa “Good glad it’s almost over, but overall I enjoyed the process.” Oya, buat yang iseng, bisa mengintip abstrak tesis gue yang udah gue uplot di Scribd. Hanya bila elo super, super, super iseng…

Belum Habis

Ditulis 2 Mei 2012 oleh Cay
Kategori: Sehari-hari

Ya ya, gue masih ada di sini! Empat tahun blog ini terbengkalai, empat tahun pula roda kehidupan berputar, membawa hidup gue bertualang baik fisik maupun mental ke manapun. Hal-hal yang dulu menjadi keniscayaan telah berubah semu, dan sebaliknya hal-hal lain yang tidak pernah ada menjadi kepastian baru.

Satu hal yang pasti, blog ini akan tetap berisi. Tidak lama lagi. Tapi mungkin dalam bentuk yang berbeda, karena menyangkut aktivitas akademis yang sedang gue jalani. Semoga blog ini bisa menjadi sarana berbagi intisari yang terperas dari proses akademis itu. Bagaimanapun, blog ini terinspirasi jeruk segar, yang sarinya selalu menyegarkan dahaga.

Nantikanlah. Dan FYI, gue masih suka jeruk.

Mengenang Febi Fitrian

Ditulis 7 Juli 2008 oleh Cay
Kategori: Suara Hati

Anak yang lucu dengan humor garing dan cengiran kaku. Itu yang gue kenang dari Febi Fitrian. Teman seangkatan dan hidup bareng di asrama waktu SMA dulu, kami malah baru akrab ketika gue kuliah di Singapura dan Pebhol, begitu dia disapa, dapet beasiswa di sekolah militer Jepang, National Defence Academy (NDA). Lewat komputer butut gue di kamar dan komputer baru dia hasil nabung beberapa bulan (“tapi keyboardnya suka ngadat nih, sial”), kami chatting bertukar humor dan cerita, dari kehidupan asramanya di Jepang yang anak-anaknya “ambisius namun bisa asik juga”, pacar Jepangnya (“cakep deh pokoknya, hahahaha!”), dan masa depannya yang belum jelas karena statusnya sebagai anggota TNI dari jalur karier.

Sekitar dua kali kami pernah bertemu rupa, yaitu ketika Pebhol dan teman-teman NDA transit di Singapura. Setelah dia pulang ke Indonesia, kami jadi jarang berinteraksi, lebih karena kesibukan masing-masing. Sesekali aja gue memergoki Pebhol online dan menyapa sana sini. Dari situ mendapat berita bahwa dia sudah menikah dengan orang Indonesia (“dan yang di Jepang sudahlah biar berlalu, hahaha…”), dan sudah jadi pilot pesawat Casa (ini cerita hebat tersendiri karena perwira karier bisa jadi pilot adalah suatu kejadian langka di Republik kita).

Foto jadul Febi Fitrian, Cay (keduanya jongkok di depan), dan teman-teman yang sedang transit di Singapura

Foto jadul Febi Fitrian, Cay (keduanya jongkok di depan) dan teman-teman yang sedang transit di Singapura

25 Juni 2008, gue persiapan besok mau ke Jakarta, salah satunya buat dateng ke Munas Ikatan Alumni SMA. Dari seorang teman lain, Inu, dapet kabar bahwa ternyata Pebhol, yang ternyata udah punya anak dua bulan sebelumnya, bakal dateng ke Munas. Hore, ketemu Pebhol lagi! Inu juga bilang bahwa besok sore dia janjian untuk ketemu Pebhol yang mau terbang dulu siangnya.

26 Juni 2008 sore, di bandara mau boarding pesawat ke Jakarta, tiba-tiba ada SMS masuk: “Mohon doa untuk Febi Fitrian. Pesawat Casa hilang di Gunung Salak hari ini.” Deg… Dan gue langsung hubungi Inu, yang ternyata sampe saat itu masih nunggu telpon dari Pebhol.

Aishel Casamoure Fitrian

Febi dan Aishel Fitrian

Selanjutnya adalah sejarah: bangsa ini mencatat satu lagi kecelakaan pesawat TNI-AU, kali ini menewaskan 18 penumpangnya, salah satunya adalah Lettu Pnb. Febi Fitrian, B.Eng. Meninggalkan istrinya Anita Perdanawati dan putra bayinya Aishel Casamoure Fitrian, yang dinamai sesuai dengan pesawat kecintaan ayahnya, Casa. Ironis. Dan dunia dirgantara nasional gaduh lagi untuk kesekian kalinya, mengulang saling tuding mencari siapa yang salah dengan bobroknya sistem penerbangan dan pertahanan tanah air.

Buat gue pribadi, kehilangan ini mahal sekali harganya. Kehilangan seorang teman baik yang pergi mendadak di saat terawang masa depan terlihat begitu indah. Dan selalu saja rasa kehilangan itu datang terlambat, menyisakan sedesir penyesalan tentang apa yang (tidak) kita lakukan di masa silam.

Selamat jalan Bhol.

Ayo Menulis Lagi

Ditulis 17 April 2008 oleh Cay
Kategori: Sehari-hari

Teman-teman bertanya apakah gue pensiun dari menulis blog. Tentu tidak, begitu jawaban seketika yang muncul. Gue hanya hibernasi, istirahat sebentar seperti beruang yang tidur menunggu datangnya musim panas.

Kemudian gue gelagapan ditanya kenapa harus berhibernasi, karena gue bukan beruang. Tentunya alasan cepat sajinya adalah: sibuk. Dan meresap di dalam argumentasi instan ini adalah bumbu yang sebenarnya: males. Hehehe… .

Tapi setidaknya tulisan ini adalah kedip-kedip lampu morse bahwa gue masih di sini. Sejenak setelah ini, gue akan muncul lagi dari hutan kemalasan, dan mencoret-coret lagi untuk memberi makna bagi diri sendiri 🙂