Mengenang Febi Fitrian

Anak yang lucu dengan humor garing dan cengiran kaku. Itu yang gue kenang dari Febi Fitrian. Teman seangkatan dan hidup bareng di asrama waktu SMA dulu, kami malah baru akrab ketika gue kuliah di Singapura dan Pebhol, begitu dia disapa, dapet beasiswa di sekolah militer Jepang, National Defence Academy (NDA). Lewat komputer butut gue di kamar dan komputer baru dia hasil nabung beberapa bulan (“tapi keyboardnya suka ngadat nih, sial”), kami chatting bertukar humor dan cerita, dari kehidupan asramanya di Jepang yang anak-anaknya “ambisius namun bisa asik juga”, pacar Jepangnya (“cakep deh pokoknya, hahahaha!”), dan masa depannya yang belum jelas karena statusnya sebagai anggota TNI dari jalur karier.

Sekitar dua kali kami pernah bertemu rupa, yaitu ketika Pebhol dan teman-teman NDA transit di Singapura. Setelah dia pulang ke Indonesia, kami jadi jarang berinteraksi, lebih karena kesibukan masing-masing. Sesekali aja gue memergoki Pebhol online dan menyapa sana sini. Dari situ mendapat berita bahwa dia sudah menikah dengan orang Indonesia (“dan yang di Jepang sudahlah biar berlalu, hahaha…”), dan sudah jadi pilot pesawat Casa (ini cerita hebat tersendiri karena perwira karier bisa jadi pilot adalah suatu kejadian langka di Republik kita).

Foto jadul Febi Fitrian, Cay (keduanya jongkok di depan), dan teman-teman yang sedang transit di Singapura

Foto jadul Febi Fitrian, Cay (keduanya jongkok di depan) dan teman-teman yang sedang transit di Singapura

25 Juni 2008, gue persiapan besok mau ke Jakarta, salah satunya buat dateng ke Munas Ikatan Alumni SMA. Dari seorang teman lain, Inu, dapet kabar bahwa ternyata Pebhol, yang ternyata udah punya anak dua bulan sebelumnya, bakal dateng ke Munas. Hore, ketemu Pebhol lagi! Inu juga bilang bahwa besok sore dia janjian untuk ketemu Pebhol yang mau terbang dulu siangnya.

26 Juni 2008 sore, di bandara mau boarding pesawat ke Jakarta, tiba-tiba ada SMS masuk: “Mohon doa untuk Febi Fitrian. Pesawat Casa hilang di Gunung Salak hari ini.” Deg… Dan gue langsung hubungi Inu, yang ternyata sampe saat itu masih nunggu telpon dari Pebhol.

Aishel Casamoure Fitrian

Febi dan Aishel Fitrian

Selanjutnya adalah sejarah: bangsa ini mencatat satu lagi kecelakaan pesawat TNI-AU, kali ini menewaskan 18 penumpangnya, salah satunya adalah Lettu Pnb. Febi Fitrian, B.Eng. Meninggalkan istrinya Anita Perdanawati dan putra bayinya Aishel Casamoure Fitrian, yang dinamai sesuai dengan pesawat kecintaan ayahnya, Casa. Ironis. Dan dunia dirgantara nasional gaduh lagi untuk kesekian kalinya, mengulang saling tuding mencari siapa yang salah dengan bobroknya sistem penerbangan dan pertahanan tanah air.

Buat gue pribadi, kehilangan ini mahal sekali harganya. Kehilangan seorang teman baik yang pergi mendadak di saat terawang masa depan terlihat begitu indah. Dan selalu saja rasa kehilangan itu datang terlambat, menyisakan sedesir penyesalan tentang apa yang (tidak) kita lakukan di masa silam.

Selamat jalan Bhol.

Iklan
Explore posts in the same categories: Suara Hati

10 Komentar pada “Mengenang Febi Fitrian”

  1. Dino Says:

    Indonesia sungguh kehilangan seorang anak muda yang bermasa depan cerah..
    Semoga arwahnya diterima disisiNYA, amien..

  2. priandoyo Says:

    Casa itu diambil dari pesawat Casa ya…

  3. Trisna Says:

    Wah temannya Febi juga toh…
    Selamat jalan untuk Febi ya…
    Dia pasti seneng liat temany2nya pada mengucapkan selamat jalan…


  4. turut berduka cita
    thx commentnya, sudah saya betulkan jadi putra bang
    šŸ™‚

  5. adi isa Says:

    turut berduka…
    tuhan punya rahasia yang sulit di duga.

  6. Silvia Alamsyah Sinaga Says:

    Nita n aishel udh 1thn menjalani hidup tanpa alm.febi…saat ini aishel udh brumur 1thn 3bln,sprti yg nita critakan aishel udh mulai mngerti…sll pgn liat album alm papiny…ketika album dibuka,foto terlihat,aishel lgsg menciumi foto sang papi…miris ngliatny nita blg.sedih,kl nita sms ttg rasa sepi yg ia rasakan,rasa rindu trhdp alm,bahkan rasa minder ttg statusny saat ini.Tp sbgai sahabat yg tau bgt ttg jatuh bangun hubungan nita n febi hingga akhirny menikah..aq bangga trhdp nita yg hingga saat ini msh ttp tegar walopun sendiri mendidik aishel.yg blm trwujud hingga saat ini adalah menengok aishel dan melihat museum mini yg dibangun nita utk mengenang alm.Mdh2an nita n aishel ttp tegar…we luv u

  7. Anita Perdanawati Says:

    Tulisan ini baru mampu aku baca saat ini. Dikala alm sdh meninggalkan kami hampir 2 thn yl. Luka dan rasa kehilangan masih kami rasa. Namun aku tersadar bahwa ada Aishel yang mampu menguatkanku. Terima kasih kpd teman2 atas support n doanya. Semoga kami tetap tegar dan mampu melanjutkan hidup tanpanya. Tuhan, sampaikan salam rinduku padanya. We you you papi… Mami & Aishel

    • Cay Says:

      Nita, Pebhol adalah sahabat sejati; Sesungguhnya dia tidak pernah jauh dari kita: saya yang “cuma” seorang teman, selalu bisa mengenang dan merasakan kehangatan persahabatan Pebhol di hati; Oleh karena itu saya percaya dia juga akan selalu hadir di hati Anita. Salam sayang saya untuk Aishel.

  8. abenk Says:

    turut berduka cita….salam kenal…

  9. itjonk Says:

    Salah satu cara saya untuk selalu mengenang abang saya adalah dengan membaca tulisan ini

    Terima kasih untuk penulis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: