Archive for the ‘Komunikasi Publik’ category

Menjelang Penuntasan

5 Juni 2012

Buat yang belum tau, saat ini gue di hari-hari terakhir penghabisan kuliah. Setelah itu -semoga- bisa sah menyandang gelar Master of Something Something.

Tadinya gue sangka menyandang gelar seperti itu akan terdengar ciamik dan asik. Tapi setelah melewati proses ini, akhirnya yang ada di kepala bukan gelar lagi (meskipun masih ada pemikiran bahwa gelar itu asik). Proses pencapaian itu -ternyata- lebih penting. Dan ini bukan cuma sok jadi motivator “proses lebih penting dari hasil akhir.” Ini sungguh dari kata hati terdalam.

Khususnya 6 bulan terakhir: Di Januari, untuk keperluan tesis, gue memutuskan untuk mengambil sebuah penelitian yang nggak umum dilakukan oleh peserta pascasarjana kelas eksekutif – karena umumnya jamaah kelas ini nyambi kerja di pagi harinya, seperti gue. Penelitannya berada di lapangan selama 1,5 bulan, yang berarti gue harus keluar dari kerjaan.

Dan keluarlah gue dari kantor. Satu bulan terlewati di sebuah kota yang gue hampir nggak pernah kunjungi, kecuali waktu masih kecil saat transit en route mudik ke kampung halaman ortu. Kota yang asing, tidak ada satupun yang familiar kecuali satu-dua teman. But I thought it would be fun.

And it was. Pengalamannya luar biasa, sampai gue akhirnya bisa mendapat bahan tesis banyaaak sekali, sampai gue bisa ngetik jauh lebih banyak dari dugaan gue… dan itu masih ada bagian-bagian yang -sayangnya- harus gue buang, selain karena nggak terlalu relevan, juga karena jadi kepanjangan (cape bo!).

Cerita mendetil akan datang pada waktunya. Kali ini cuma catatan sementara, sebagai pengingat bahwa “Good glad it’s almost over, but overall I enjoyed the process.” Oya, buat yang iseng, bisa mengintip abstrak tesis gue yang udah gue uplot di Scribd. Hanya bila elo super, super, super iseng…

Iklan

SBY Kalah Untuk Menang

2 Februari 2007
SBY Sang Komunikator Ulung

Ada yang baru di pidato awal tahun 2007 yang telat 30 hari Dr. Susilo Bambang Yudhoyono: ia mengaku dosa. Detik.com* mengambil sebuah judul yang kurang lebih bisa meringkas isi pidato itu: “SBY Akui Belum Berhasil dan Tak Berani Janji”.

Kenapa kok tiba-tiba SBY (nama panggung Dr. Yudhoyono) menembak dirinya sendiri? Apakah ini tanda-tanda ia sudah menyerah kalah? Atau malah ini tanda ia minta tolong ke lawan-lawan politiknya? Hmm… kalo menurut gue, ini malah bagian dari strategi komunikasi publik beliau yang canggih itu.

Al Ries, seorang jagoan strategi pemasaran, menyebut teknik ini The Law of Candor, sebuah “hukum” yang kurang lebih berbunyi: kalo elo mau mengakui kelemahan lo, orang bakal memandangnya sebagai kekuatan lo.

Sejak jaman dulu, para penjual biasanya selalu berusaha mendorong produknya buat jadi yang terbaik, terbagus, terkeren, paling laku, kecap-nomer-satu, kagak-ada-bandingannya-deh. Publik yang dicekoki beginian, lama-lama jadi defensif dan mulai berhati-hati (atau langsung nggak percaya) sama jargon-jargon orang dagang kayak gitu. Tapi bayangin kalo tau-tau ada orang jualan, yang jujur bilang kalo produknya bukan produk paling laku, tapi normal-normal aja. Kita mungkin banget bakal lebih percaya sama si penjual yang satu ini, dan lebih milih buat ngedengerin dia dibanding sama penjual kecap-nomer-satu tadi.

Kenapa?

Kalo elo ngomong sesuatu itu bagus, elo harus bisa ngebuktiin kalo sesuatu itu beneran bagus. Kalo elo gagal ngebuktiinnya, atau publik sampe ragu-ragu sama pembuktian lo, sia-sialah usaha lo. Sebaliknya, kalo elo ngaku bahwa sesuatu itu punya kekurangan, elo nggak perlu susah-susah ngebuktiin lagi. Publik biasanya bakal membuka pikirannya, menerima bahwa emang di dunia ini nggak ada yang sempurna, dan bahkan bakal menaruh simpati. Dan saat publik sedang bersimpati sama elo inilah, elo berkesempatan buat menawarkan pesan yang elo mau, dan mengambil keuntungan dari kekurangan lo tadi.

Contoh nyata: kira-kira setaun lalu, waktu SBY ngumumin bahwa pemerintah udah sukses buat ngurangin jumlah orang miskin di Indonesia, langsung banyak banget tanggapan baik dari media* maupun dari segala jenis pakar*, yang berusaha ngebantah dan ngebuktiin kalo omongan SBY itu ngawur dan merupakan kebohongan publik.

Bandingin sama yang kali ini: sejak SBY ngaku dosa melalui pidatonya 2 hari lalu, setau gue sampe hari ini belom ada tuh koran online yang memuat bantahan dari manapun.

Lalu setelah ngebuka pikiran publik dengan pengakuannya yang mengundang simpati itu, “pesan” apa yang SBY mau kasih ke publik?

Ini tanggapan SBY tentang pihak-pihak yang selalu mencari-cari kesalahan dan mengkritik kegagalan yang dia akui tadi:

“…Sebagian kritik itu logis dan dapat kami terima, sebagian lagi perlu kami berikan klarifikasi dan penjelasan karena cara melihat permasalahan berbeda, atau karena kurang mengetahui apa yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini. Namun, sulit bagi pemerintah untuk merespons kecaman yang hanya sarat dengan retorika, tanpa data dan fakta yang akurat, dan bernada ‘pokoknya’ pemerintah gagal, jelek, dan tidak ada satupun kemajuan yang dicapai… .”

Kalo lawan-lawan politik SBY denger ini, dalam hati mungkin bakal bilang: touché! (“kena dah gue!”) Jelas banget kalo kalimat di atas ditembakkan ke arah mereka, khususnya yang memang belakangan tau-tau bangkit dari kubur dan ngoceh-ngoceh tentang buruknya transportasi, tentang pelanggaran hak asasi manusia di katering haji dan perlunya pemerintah lengser karena sudah gagal.

Seperti gonjang-ganjing “pengucilan SBY” di kabinet Megawati beberapa tahun yang lalu (dan mayoritas publik akhirnya bersimpati pada SBY dan berbuntut memenangkan beliau jadi presiden), sekali lagi SBY agaknya kali ini berhasil menarik simpati publik lewat pidatonya tadi. Setali tiga uang, ini juga ngebikin omongan lawan-lawan politiknya jadi gak relevan sekaligus memposisikan kalo mereka cupu dan gak lebih kompeten dari dia.

Kalo boleh dibahasakan dengan agak nyante, SBY mungkin mau ngomong gini: “Oke dah, gue emang belom sukses. Tapi setidaknya gue masih ada usaha, kagak kayak elu pade yang omong doang… .”

Rubuhnya Aa Gym Kami

23 Januari 2007
Abdullah Gymnastiar dan Ninih Muthmainah Muhsin

Mungkin gue agak telat (kemane aje lu, Cay?) dalam mengulas heboh poligami Abdullah Gymnastiar. Tapi apa boleh buat, gue geregetan banget buat ngebahasnya, karena dari sudut komunikasi publik, ini kasus yang menarik:

Aa Gym (nama panggung Pak Abdullah) bukan orang pertama yang terungkap berpoligami. Sebelum dia, banyak tokoh terkenal yang diketahui melakukan poligami, dan masyarakat “tenang-tenang” aja (reaksi terbesar paling juga gosip dan rumor di belakang punggung). Tapi kenapa baru ketika Aa Gym yang berpoligami, Indonesia seolah gempar, sampai-sampai pemerintah turun tangan dan menggulirkan ide untuk membuat peraturan tentang poligami ini (yang tentunya menuai pro-kontra)?

Ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari strategi pencitraan (branding) dan persepsi publik terhadap Aa Gym. Kepopuleran awal Aa Gym adalah akibat dari pencitraan yang ia bangun selama ini (baik secara sadar maupun tidak) sebagai sesosok pemuka agama yang berbeda dengan ulama lainnya. Ketika para ulama “konvensional” berdakwah tentang keutamaan sholat, puasa, dan kemegahan surga, Aa Gym memilih untuk bercerita tentang pentingnya hati yang tulus, keluarga yang sakinah, dan masyarakat yang guyub dan saling membantu. Bahasa yang digunakan pun bukan bahasa penuh ayat kitab suci, tapi bahasa sehari-hari yang ringan dan menyenangkan. Dengan gaya begini, Aa Gym cepat sekali memikat hati orang-orang Indonesia kebanyakan, khususnya ibu-ibu rumah tangga yang umumnya memang nggak demen sama bahasa-bahasa berat.

Dalam teori pemasaran, puncak keberhasilan pencitraan adalah bila sudah mendapatkan kata asosiasi. Ini berlaku juga di ‘pasar ustad’:

Jeffry Al Buchori (nama panggung U.J.) yang mendapatkan asosiasi “ustad gaul” karena gaya bicaranya yang asik dan pas buat anak muda;

Arifin Ilham dikenal sebagai “ustad nge-pop” karena sering berdakwah bareng grup band populer;

Aa Gym, karena topik bahasannya yang seputar keluarga dan audiensnya yang terkonsentrasi pada ibu-ibu rumah tangga, didapuk sebagai “ustad keluarga”, atau lebih spesifik lagi, “ustad keluarga bahagia.”

Ketika media mengumumkan bahwa Aa Gym telah melakukan poligami dan menikah lagi, bubarlah sudah predikat “ustad keluarga bahagia” itu. “Poligami” dalam persepsi kebanyakan masyarakat Indonesia diasosiasikan sebagai antonim dari “keluarga bahagia,” karena poligami dianggap sebagai simbol keretakan rumah tangga dan kegagalan interaksi suami-istri.

Oleh karena itu, para pemberi asosiasi alias para konsumen dakwah Aa Gym, yaitu ibu-ibu rumah tangga tadi, sambil nangis-nangis kecewa berusaha mencabut asosiasi ini dari Aa Gym dengan berbagai cara: dari mengirim SMS berantai, menulis di blog dan Surat Pembaca, menelpon ke stasiun TV, memboikot kunjungan ke Pondok Daarut Tauhid, sampai ada yang ikutan turun jalan dan berdemo menentang poligami.

Maka dampaknya ke masyarakat sudah kita liat sendiri: terjadi gonjang-ganjing di masyarakat yang tiba-tiba kehilangan sosok panutan mereka. Sampai-sampai media, pemerintah, DPR, semua merasa perlu untuk ikut bereaksi.

Akibat paling telak tentunya dirasakan oleh Aa Gym sendiri: jaringan bisnisnya, yang selama ini dilekatkan kepada keberhasilannya sebagai sosok “ustad keluarga bahagia” tadi, langsung jeblok. Puncaknya, Aa Gym memutuskan untuk segera menyerahkannya pengelolaan bisnisnya kepada pihak profesional, dan berusaha dilepaskan dari figur Aa Gym [*] (mungkin ini supaya bisnisnya nggak semakin ancur kalo nanti Aa Gym memutuskan untuk nikah lagi, hehehe…).

Andaikata sejak awal Aa Gym sadar bahwa bertindak berbeda dengan apa yang ia komunikasikan ke publik (dan merubuhkan asosiasi yang terbangun selama ini) bakal bikin bisnisnya porak poranda, mungkin dia nggak akan poligami… mungkin.

Sepotong Cerita Berujung Blunder

14 Januari 2007

Terungkaplah sebuah perbincangan ini (meskipun nama dan setting diganti, namun latar-belakangnya adalah kejadian sungguhan):

Yayuk: Hebat deh si Bejo itu.
Zuzi: Kenapa?
Yayuk: Gue ketemu dia di jalanan, dengan muka riang gembira. Gue kirain abis gajian ato apa. Tiba-tiba dia nyalamin gue sambil bilang “Eh, gue diselametin dong. Gue kan abis cerai sama istri gue.”
Zuzi: Wuah, bangs*t banget si Bejo!! Geblek banget, cerai kok malah kegirangan ketawa-tawa! Apa dia gak tau kalo istrinya nangis-nangis bombay gara-gara itu?!

Banyak kejadian di dunia ini yang saling berketegantungan dengan kejadian lainnya. Beberapa di antaranya sangat “akut” tingkat ketergantungannya, sampai-sampai kalo dipisahkan satu sama lainnya, bisa membentuk satu persepsi di otak pendengar cerita yang sepenuhnya berbeda dengan kenyataan yang sebenernya.

Lain masalahnya kalau memang pembentukan persepsi semacam ini (yaitu: memilih-milih bagian cerita tertentu supaya si pendengar beropini sesuai dengan yang diingini oleh si penutur) adalah memang jadi misi si penutur. Namun terkadang si penutur pun nggak sadar kalo dia udah melakukan pembentukan persepsi ini, mungkin karena dia lupa kalo si pendengar nggak mengalami dan berada di situasi yang sama dengan ketika si penutur mengalaminya. Akibatnya, terjadi ke-blunder-an fakta.

Dalam konteks di atas, Yayuk “lupa” bercerita, bahwa seminggu sebelum kejadian itu, Beno curhat dan berkeluh-kesah tentang hubungannya dengan yang sedang dirundung masalah berkelanjutan dengan istrinya. Andai Yayuk bercerita tentang hal ini ke Zuzi sebelum ia bercerita hal yang di atas, Zuzi pastinya bakal dapet gambaran yang lebih utuh, dan mungkin bisa memahami kenapa Bejo kok malah gembira ketika sudah cerai (meskipun ‘memahami’ bukan berarti ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’).

Kalau elo pernah menjadi Yayuk si penutur, jangan lupa bahwa pendengar lo mungkin nggak mengalami apa yang udah elo alami, sehingga dia bakal butuh ‘cerita pendahuluan’ atau ‘latar belakang kisah.’ Kalo nggak gitu, alih-alih maunya cerita doang, malah bisa bikin kusut masalah.

Kalo elo pernah menjadi Zuzi si pendengar, nggak ada salahnya kalo elo buru-buru mengklarifikasi segala sesuatu yang elo dengar, terutama kalo yang elo denger itu agak ‘lain’ atau bisa berpengaruh besar sama persepsi lo terhadap seseorang/sesuatu. Ini bagus buat ngeyakinin kalo elo nggak cuma ngedapetin bagian kecil ceritanya doang, tapi udah dapet gambaran yang kumplit plit plit dan bisa bereaksi dengan pas juga.