Archive for the ‘Suara Hati’ category

Mengenang Febi Fitrian

7 Juli 2008

Anak yang lucu dengan humor garing dan cengiran kaku. Itu yang gue kenang dari Febi Fitrian. Teman seangkatan dan hidup bareng di asrama waktu SMA dulu, kami malah baru akrab ketika gue kuliah di Singapura dan Pebhol, begitu dia disapa, dapet beasiswa di sekolah militer Jepang, National Defence Academy (NDA). Lewat komputer butut gue di kamar dan komputer baru dia hasil nabung beberapa bulan (“tapi keyboardnya suka ngadat nih, sial”), kami chatting bertukar humor dan cerita, dari kehidupan asramanya di Jepang yang anak-anaknya “ambisius namun bisa asik juga”, pacar Jepangnya (“cakep deh pokoknya, hahahaha!”), dan masa depannya yang belum jelas karena statusnya sebagai anggota TNI dari jalur karier.

Sekitar dua kali kami pernah bertemu rupa, yaitu ketika Pebhol dan teman-teman NDA transit di Singapura. Setelah dia pulang ke Indonesia, kami jadi jarang berinteraksi, lebih karena kesibukan masing-masing. Sesekali aja gue memergoki Pebhol online dan menyapa sana sini. Dari situ mendapat berita bahwa dia sudah menikah dengan orang Indonesia (“dan yang di Jepang sudahlah biar berlalu, hahaha…”), dan sudah jadi pilot pesawat Casa (ini cerita hebat tersendiri karena perwira karier bisa jadi pilot adalah suatu kejadian langka di Republik kita).

Foto jadul Febi Fitrian, Cay (keduanya jongkok di depan), dan teman-teman yang sedang transit di Singapura

Foto jadul Febi Fitrian, Cay (keduanya jongkok di depan) dan teman-teman yang sedang transit di Singapura

25 Juni 2008, gue persiapan besok mau ke Jakarta, salah satunya buat dateng ke Munas Ikatan Alumni SMA. Dari seorang teman lain, Inu, dapet kabar bahwa ternyata Pebhol, yang ternyata udah punya anak dua bulan sebelumnya, bakal dateng ke Munas. Hore, ketemu Pebhol lagi! Inu juga bilang bahwa besok sore dia janjian untuk ketemu Pebhol yang mau terbang dulu siangnya.

26 Juni 2008 sore, di bandara mau boarding pesawat ke Jakarta, tiba-tiba ada SMS masuk: “Mohon doa untuk Febi Fitrian. Pesawat Casa hilang di Gunung Salak hari ini.” Deg… Dan gue langsung hubungi Inu, yang ternyata sampe saat itu masih nunggu telpon dari Pebhol.

Aishel Casamoure Fitrian

Febi dan Aishel Fitrian

Selanjutnya adalah sejarah: bangsa ini mencatat satu lagi kecelakaan pesawat TNI-AU, kali ini menewaskan 18 penumpangnya, salah satunya adalah Lettu Pnb. Febi Fitrian, B.Eng. Meninggalkan istrinya Anita Perdanawati dan putra bayinya Aishel Casamoure Fitrian, yang dinamai sesuai dengan pesawat kecintaan ayahnya, Casa. Ironis. Dan dunia dirgantara nasional gaduh lagi untuk kesekian kalinya, mengulang saling tuding mencari siapa yang salah dengan bobroknya sistem penerbangan dan pertahanan tanah air.

Buat gue pribadi, kehilangan ini mahal sekali harganya. Kehilangan seorang teman baik yang pergi mendadak di saat terawang masa depan terlihat begitu indah. Dan selalu saja rasa kehilangan itu datang terlambat, menyisakan sedesir penyesalan tentang apa yang (tidak) kita lakukan di masa silam.

Selamat jalan Bhol.

Iklan

Bangsa Pencari Kesalahan Orang

9 Februari 2007

Tadi sepulang makan siang, gue sempet ngobrol sama seorang diplomat senior Indonesia. Sambil minum secangkir kopi anget di teras kantor dan diisi obrolan sana-sini (dari saran-saran buat beli notebook sampe tragisnya banjir Jakarta), di satu titik beliau bilang:

“…Kamu tau, ada yang salah dengan sistem di pemerintahan Indonesia: negara ini mengabaikan yang berprestasi, tapi kalau salah, dihukum dan dihujat habis-habisan. Hampir di seluruh struktur sistemnya begitu: Kalo kamu bikin prestasi 9 kali, prestasi itu bisa luntur gara-gara kesalahan 1 kali. Andai kamu berinisiatif dan kamu berhasil, kamu bakal dikasih selamat, and that’s about it… tapi sekalinya gagal, that’s your fault and you bear the risk. Itu makanya daripada mengambil inisiatif, lebih baik pegawai negeri itu diem aja. Kalo diem kan setidaknya nggak mungkin buat salah, dan kita aman-aman saja, tho?”

Terlepas dari kenyataan bahwa Pak Diplomat ini adalah bagian dari sistem itu (sehingga ‘pembelaan-dirinya’ ini patut dipertanyakan), sedikit banyak pernyataan beliau ada benarnya juga. Gue perhatiin para diplomat dari Indonesia (baik staf di Kedutaan maupun peserta di beberapa kegiatan yang kebetulan gue ikuti) lebih banyak hati-hati dalam bereaksi terhadap suatu perkara, dan ini cenderung dipersepsi sebagai suatu kelambatan.

Berkebalikan dengan diplomat dari beberapa negara lain (yang kebetulan juga gue temui) yang umumnya lugas dan cekatan, sehingga terlihat sangat kompeten, para duta dari Indonesia ini justru sering terlihat ragu-ragu dan malah memilih untuk nggak ikut-ikut kalau ada suatu diskusi atau perbincangan sejenis. Kalaupun akhirnya memutuskan sesuatu, biasanya keputusannya lebih ke arah status quo alias nggak mengubah keadaan secara signifikan (a.k.a “keputusan cari aman”). Pantes aja mereka milih diem, karena ternyata risk-nya lebih besar dari reward-nya.

SBY Image Courtesy of AnswersInGenesis.Org

Apa itu akibat kultur bangsa yang lebih senang menyalahkan daripada menghargai? Mungkin. Ngeliat buteknya kopi di cangkir, gue jadi keinget contoh nyata dari banjir di Jakarta barusan. Begitu kebanjiran, semua jari buru-buru menuding dan mulut menghujat Sutiyoso. Seolah-olah lupa kalo ada berton-ton sampah yang dibuang jutaan warga secara sembarangan; seolah menutup mata pada kenyataan bahwa banyak pihak pemerintah lain yang ikut berperan (antara lain fakta bahwa dana penanganan banjir udah dipotong gila-gilaan di DPRD); dan yang paling relevan di sini, seolah-olah Sutiyoso sama sekali, blas nggak punya jasa selama bertahun belakangan ini.

Sambil nyruput kopi dan merenungi contoh-contoh lain (mahasiswa yang demo anti tirani tapi serampangan di jalan raya; rakyat yang ceplas-ceplos anti korupsi tapi mbayar calo buat bikin SIM; bangsa yang nyalah-nyalahin negara lain padahal negara sendiri masih [ke]banyak[an] bolongnya), gue semakin yakin kalo omongan Pak Diplomat itu ada benarnya. Bangsa tercintaku ini terlalu hobi menunjuk dan menelisik kesalahan orang lain. Saking hobinya, seringkali sampe lupa buat melihat kalau sebenarnya banyak hal-hal lain yang bagus dan bisa kita ambil dan pergunakan untuk membuat bangsa ini maju.

Mengapa Istri Seharusnya Bekerja

29 Januari 2007

Dari banyak temen gue jaman kuliah maupun SMA dulu, lumayan banyak yang udah menikah. and this brings us to another topic on myself… but anywaaaay Menariknya, sebagian dari mereka ada yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Tentunya masing-masing punya alasan sendiri.

Dengan segala hormat terhadap apapun yang sudah mereka putuskan untuk hidup mereka sendiri, gue masih percaya kalau baik suami dan istri harus tetap bekerja meskipun sudah menikah. Buat gue, istilah 100% ibu rumah tangga itu udah nggak valid. Ini antara lain karena faktor:

1. Keterbukaan wawasan dan cara berpikir
Bekerja itu, selain buat duit, juga penting buat menjaga kemampuan otak yang udah digebuk-tempa sejak kelas 1 SD sampe semester terakhir kuliah, agar bisa tetep tajem, kritis, dan logis. Kelamaan nggak kerja dan nggak ngadepin masalah-masalah baru, bisa berakibat jelek karena itu berarti nggak ada tantangan lagi buat ngasah otak ini. Akhirnya tumpullah kemampuan kritis-logis yang udah dibangun bertahun-tahun itu. Tetap bekerja adalah kunci ketajaman otak. Selain penting buat diri sendiri, kemampuan ini juga penting untuk ditularkan nanti ke anak.

2. Kemampuan berinteraksi dan sosialisasi
Manusia sangat terpengaruh dengan orang-orang di lingkungannya. Sadar nggak sadar, dengan kita bekerja setiap hari, diri kita melakukan pelatihan dan penyesuaian interaksi dan komunikasi dengan orang-orang yang kita temui di kantor. Dengan seseorang tetap bekerja, ini sangat baik buat dirinya untuk tetap belajar cara berinteraksi yang lugas dengan orang lain, termasuk (kalo dia seorang istri) ke suami dan anaknya.

3. Kemampuan buat survive dalam keadaan nggak terduga
Siapalah yang bisa ngebaca masa depan, selain Mama Loren dan Ki Joko Bodo (dan yang dua terakhir pun kebanyakan ngawurnya, hihihi…). Sekarang mungkin istri masih bisa hidup dengan ngandelin suami sebagai pencari nafkah, tapi gimana kalo terjadi apa-apa sama sang suami yang ngebuat dia nggak bisa nyari nafkah lagi? Jangan sampailah si istri kemudian harus ngutang sana sini, atau (andai suaminya meninggal) sampai harus kawin lagi bukan karena cinta tapi demi ngasih makan dia dan anaknya. Menurut gue, cara yang paling bijak buat mengantisipasi hal yang gak dipengenin kayak gini adalah dengan mengurangi ketergantungan finansial antar suami-istri, yaitu antara lain ya tadi itu, suami istri tetap bekerja dan sama-sama menghasilkan nafkah.

4. Biaya hidup
Akhirnya memang ada faktor finansial juga yang mendukung kenapa istri harus bekerja juga. Cuma tetep aja gue taruh di bagian terakhir, karena buat gue, tiga hal pertama itu lebih penting daripada sekedar duit.

Ya sekali lagi, emang ini semua terserah keputusan keluarga itu masing-masing. Gue pribadi pengen menghargai istri gue di masa depan nanti sebagai seorang individu yang utuh, yang selalu belajar dan berinteraksi dengan orang lain, sekaligus hidup sebagai dirinya sendiri. Dan menurut gue, tetap bekerja untuk mengembangkan wawasan, itu komponen penting bagi manusia yang utuh jaman sekarang.