Mengapa Istri Seharusnya Bekerja

Ditulis 29 Januari 2007 oleh Cay
Kategori: Suara Hati

Dari banyak temen gue jaman kuliah maupun SMA dulu, lumayan banyak yang udah menikah. and this brings us to another topic on myself… but anywaaaay Menariknya, sebagian dari mereka ada yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Tentunya masing-masing punya alasan sendiri.

Dengan segala hormat terhadap apapun yang sudah mereka putuskan untuk hidup mereka sendiri, gue masih percaya kalau baik suami dan istri harus tetap bekerja meskipun sudah menikah. Buat gue, istilah 100% ibu rumah tangga itu udah nggak valid. Ini antara lain karena faktor:

1. Keterbukaan wawasan dan cara berpikir
Bekerja itu, selain buat duit, juga penting buat menjaga kemampuan otak yang udah digebuk-tempa sejak kelas 1 SD sampe semester terakhir kuliah, agar bisa tetep tajem, kritis, dan logis. Kelamaan nggak kerja dan nggak ngadepin masalah-masalah baru, bisa berakibat jelek karena itu berarti nggak ada tantangan lagi buat ngasah otak ini. Akhirnya tumpullah kemampuan kritis-logis yang udah dibangun bertahun-tahun itu. Tetap bekerja adalah kunci ketajaman otak. Selain penting buat diri sendiri, kemampuan ini juga penting untuk ditularkan nanti ke anak.

2. Kemampuan berinteraksi dan sosialisasi
Manusia sangat terpengaruh dengan orang-orang di lingkungannya. Sadar nggak sadar, dengan kita bekerja setiap hari, diri kita melakukan pelatihan dan penyesuaian interaksi dan komunikasi dengan orang-orang yang kita temui di kantor. Dengan seseorang tetap bekerja, ini sangat baik buat dirinya untuk tetap belajar cara berinteraksi yang lugas dengan orang lain, termasuk (kalo dia seorang istri) ke suami dan anaknya.

3. Kemampuan buat survive dalam keadaan nggak terduga
Siapalah yang bisa ngebaca masa depan, selain Mama Loren dan Ki Joko Bodo (dan yang dua terakhir pun kebanyakan ngawurnya, hihihi…). Sekarang mungkin istri masih bisa hidup dengan ngandelin suami sebagai pencari nafkah, tapi gimana kalo terjadi apa-apa sama sang suami yang ngebuat dia nggak bisa nyari nafkah lagi? Jangan sampailah si istri kemudian harus ngutang sana sini, atau (andai suaminya meninggal) sampai harus kawin lagi bukan karena cinta tapi demi ngasih makan dia dan anaknya. Menurut gue, cara yang paling bijak buat mengantisipasi hal yang gak dipengenin kayak gini adalah dengan mengurangi ketergantungan finansial antar suami-istri, yaitu antara lain ya tadi itu, suami istri tetap bekerja dan sama-sama menghasilkan nafkah.

4. Biaya hidup
Akhirnya memang ada faktor finansial juga yang mendukung kenapa istri harus bekerja juga. Cuma tetep aja gue taruh di bagian terakhir, karena buat gue, tiga hal pertama itu lebih penting daripada sekedar duit.

Ya sekali lagi, emang ini semua terserah keputusan keluarga itu masing-masing. Gue pribadi pengen menghargai istri gue di masa depan nanti sebagai seorang individu yang utuh, yang selalu belajar dan berinteraksi dengan orang lain, sekaligus hidup sebagai dirinya sendiri. Dan menurut gue, tetap bekerja untuk mengembangkan wawasan, itu komponen penting bagi manusia yang utuh jaman sekarang.

Iklan

Roda Resolusi 2007

Ditulis 25 Januari 2007 oleh Cay
Kategori: Sehari-hari

Pagi ini di meja kantor gue tergeletak sebuah amplop gede. Kirain permintaan foto pribadi dan tanda-tangan dari salah seorang fans.*halah* Ternyata isinya adalah sebuah kalender dari design house yang juga partner kantor gue.

Namanya juga buatan design house, desain si kalender ini bener-bener trendi buat ukuran sebuah kalender. Mengusung tema “Are You Game?” setiap lembaran bulannya dilengkapi dengan sebuah aktivitas yang oke, antara lain: panduan cara melipat origami bentuk babi (karena taun 2007 ini adalah Taun Babi); Sudoku; Kertas yang di-perforasi berbentuk potongan anggota tubuh dan bisa disambung-sambung jadi wayang; Mainan tebak kata; dua gambar untuk dicari perbedaannya; de el el.

Dan yang paling “fungsional” buat gue (gue kasih tanda ” ” karena sebenernya semuanya nggak ada yang fungsional, cuma asik aja, hihihi…), sebenernya adalah mainan di lembaran bulan Januari (seperti yang ada di foto): sebuah roda berputar yang isinya daftar hal-hal yang biasanya dipilih orang buat resolusi tahunan. Kita tinggal mengarahkan resolusi tahun ini ke panah berwarna putih (yang bentuk segitiga di bagian bawah). Hmm… ide yang bagus, secara gue juga belom nentuin resolusi gue taun ini.

Wheel of Resolution:
– Finding a new job
– Buying insurance
– Working out
– Saving money
– Stop procastinating
– Spending more time with my family
– Being nice to people
– Learning a new language
– Dating someone
– Adopting a pet
– Planning a trip
– Having a kid
– Eating sensibly
– Start upgrading myself
– Losing weight
– Stop smoking
– Buying stocks
– Changing my hairstyle

Setelah ngebaca pilihan yang ada, gue sangat menyayangkan bahwa panahnya cuma satu (jadi cuma boleh milih satu). Padahal gue butuhnya beberapa panah sekaligus, karena resolusi gue taun 2007 ini banyak… tepatnya resolusi bawaan dari taun-taun sebelumnya yang belom terpenuhi, hahaha… .

Apa yang bakal lo pilih buat resolusi taun baru lo?

Rubuhnya Aa Gym Kami

Ditulis 23 Januari 2007 oleh Cay
Kategori: Komunikasi Publik

Abdullah Gymnastiar dan Ninih Muthmainah Muhsin

Mungkin gue agak telat (kemane aje lu, Cay?) dalam mengulas heboh poligami Abdullah Gymnastiar. Tapi apa boleh buat, gue geregetan banget buat ngebahasnya, karena dari sudut komunikasi publik, ini kasus yang menarik:

Aa Gym (nama panggung Pak Abdullah) bukan orang pertama yang terungkap berpoligami. Sebelum dia, banyak tokoh terkenal yang diketahui melakukan poligami, dan masyarakat “tenang-tenang” aja (reaksi terbesar paling juga gosip dan rumor di belakang punggung). Tapi kenapa baru ketika Aa Gym yang berpoligami, Indonesia seolah gempar, sampai-sampai pemerintah turun tangan dan menggulirkan ide untuk membuat peraturan tentang poligami ini (yang tentunya menuai pro-kontra)?

Ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari strategi pencitraan (branding) dan persepsi publik terhadap Aa Gym. Kepopuleran awal Aa Gym adalah akibat dari pencitraan yang ia bangun selama ini (baik secara sadar maupun tidak) sebagai sesosok pemuka agama yang berbeda dengan ulama lainnya. Ketika para ulama “konvensional” berdakwah tentang keutamaan sholat, puasa, dan kemegahan surga, Aa Gym memilih untuk bercerita tentang pentingnya hati yang tulus, keluarga yang sakinah, dan masyarakat yang guyub dan saling membantu. Bahasa yang digunakan pun bukan bahasa penuh ayat kitab suci, tapi bahasa sehari-hari yang ringan dan menyenangkan. Dengan gaya begini, Aa Gym cepat sekali memikat hati orang-orang Indonesia kebanyakan, khususnya ibu-ibu rumah tangga yang umumnya memang nggak demen sama bahasa-bahasa berat.

Dalam teori pemasaran, puncak keberhasilan pencitraan adalah bila sudah mendapatkan kata asosiasi. Ini berlaku juga di ‘pasar ustad’:

Jeffry Al Buchori (nama panggung U.J.) yang mendapatkan asosiasi “ustad gaul” karena gaya bicaranya yang asik dan pas buat anak muda;

Arifin Ilham dikenal sebagai “ustad nge-pop” karena sering berdakwah bareng grup band populer;

Aa Gym, karena topik bahasannya yang seputar keluarga dan audiensnya yang terkonsentrasi pada ibu-ibu rumah tangga, didapuk sebagai “ustad keluarga”, atau lebih spesifik lagi, “ustad keluarga bahagia.”

Ketika media mengumumkan bahwa Aa Gym telah melakukan poligami dan menikah lagi, bubarlah sudah predikat “ustad keluarga bahagia” itu. “Poligami” dalam persepsi kebanyakan masyarakat Indonesia diasosiasikan sebagai antonim dari “keluarga bahagia,” karena poligami dianggap sebagai simbol keretakan rumah tangga dan kegagalan interaksi suami-istri.

Oleh karena itu, para pemberi asosiasi alias para konsumen dakwah Aa Gym, yaitu ibu-ibu rumah tangga tadi, sambil nangis-nangis kecewa berusaha mencabut asosiasi ini dari Aa Gym dengan berbagai cara: dari mengirim SMS berantai, menulis di blog dan Surat Pembaca, menelpon ke stasiun TV, memboikot kunjungan ke Pondok Daarut Tauhid, sampai ada yang ikutan turun jalan dan berdemo menentang poligami.

Maka dampaknya ke masyarakat sudah kita liat sendiri: terjadi gonjang-ganjing di masyarakat yang tiba-tiba kehilangan sosok panutan mereka. Sampai-sampai media, pemerintah, DPR, semua merasa perlu untuk ikut bereaksi.

Akibat paling telak tentunya dirasakan oleh Aa Gym sendiri: jaringan bisnisnya, yang selama ini dilekatkan kepada keberhasilannya sebagai sosok “ustad keluarga bahagia” tadi, langsung jeblok. Puncaknya, Aa Gym memutuskan untuk segera menyerahkannya pengelolaan bisnisnya kepada pihak profesional, dan berusaha dilepaskan dari figur Aa Gym [*] (mungkin ini supaya bisnisnya nggak semakin ancur kalo nanti Aa Gym memutuskan untuk nikah lagi, hehehe…).

Andaikata sejak awal Aa Gym sadar bahwa bertindak berbeda dengan apa yang ia komunikasikan ke publik (dan merubuhkan asosiasi yang terbangun selama ini) bakal bikin bisnisnya porak poranda, mungkin dia nggak akan poligami… mungkin.

Secuil Lords of the Ring di Cameron Highlands

Ditulis 18 Januari 2007 oleh Cay
Kategori: Petualangan

Kalo kita berkelana ke suatu tempat, kadang-kadang kita menemukan kalo proses perjalanannya ternyata lebih mengasyikkan daripada tempatnya sendiri.

Dalam petualangan ke Cameron Highland bareng Dono dan Etu, kami bener-bener nggak ada yang tau seperti apa tempat yang bakal dikunjungi. Pas gue coba cari-cari tempat nginep lewat Internet, hampir semua hotel backpacker yang gue telpon udah fully-booked. Setelah sekian lama mencoba, akhirnya nemu website, isinya tentang alamat dan nomer telpon sebuah chalet. “Kenapa enggak?” pikir gue, dan gue book-lah si chalet itu. Dan gue melewatkan satu bagian (yang ternyata penting) yang ditulis di website itu:

P.S. It’s best that you have your own transport as this place is located quite a distance into the plantation. If you intend to have total solitude, then transportation shouldn’t matter.

Bener juga, setelah total jenderal naik bis 8 jam -belom termasuk 3 jam buat nunggu bisnya- dari Singapore ke Tanah Rata (“kota” terbesar di Cameron Highlands), kami baru tau bahwa si chalet yang udah di-book ini tempatnya masih 45 menit perjalanan dari “kota” itu, dan jalan ke sana kabarnya susah dan terjal.

Walhasil, harus nyari taksi lagi. Akhirnya setelah tawar-tawaran, berhasil dapet taksi yang keren, yang merupakan mobil keluaran tahun ’65. Bawaannya udah mau sungkem aja sebelom naik (soalnya taksinya lebih tua dari penumpangnya).

Meskipun awalnya nggak percaya kalo ke sananya beneran susah dan butuh 45 menit (kirain itu cuma akal-akalannya si supir taksi), ternyata akhirnya terbukti juga: dengan mobil gaul jamannya Sean Connery masih muda itu, kami harus melalui jalanan tanah sempit yang cuma muat satu mobil (jadi kalo papasan sama mobil lain, salah satu harus rela mundur sampe ada pengkolan yang “kira-kira” bisa muat dua mobil) . Jalannya sendiri te.o.pe be.ge.te, berkelok-kelok menembus perkebunan teh, naik, naik, naik terus ke atas. Kerennya lagi, suasana saat itu super berkabut, jadi rasanya kayak lagi nembus pegunungan a la Lords of the Ring *halah*

Belom nyampe tempatnya aja, udah berasa kalo pengorbanan naik bis 8 jam tadi nggak sia-sia… .

*Keterangan gambar: Etu dan Cay di depan taksi antik dan di tengah kabut

Sepotong Cerita Berujung Blunder

Ditulis 14 Januari 2007 oleh Cay
Kategori: Komunikasi Publik

Terungkaplah sebuah perbincangan ini (meskipun nama dan setting diganti, namun latar-belakangnya adalah kejadian sungguhan):

Yayuk: Hebat deh si Bejo itu.
Zuzi: Kenapa?
Yayuk: Gue ketemu dia di jalanan, dengan muka riang gembira. Gue kirain abis gajian ato apa. Tiba-tiba dia nyalamin gue sambil bilang “Eh, gue diselametin dong. Gue kan abis cerai sama istri gue.”
Zuzi: Wuah, bangs*t banget si Bejo!! Geblek banget, cerai kok malah kegirangan ketawa-tawa! Apa dia gak tau kalo istrinya nangis-nangis bombay gara-gara itu?!

Banyak kejadian di dunia ini yang saling berketegantungan dengan kejadian lainnya. Beberapa di antaranya sangat “akut” tingkat ketergantungannya, sampai-sampai kalo dipisahkan satu sama lainnya, bisa membentuk satu persepsi di otak pendengar cerita yang sepenuhnya berbeda dengan kenyataan yang sebenernya.

Lain masalahnya kalau memang pembentukan persepsi semacam ini (yaitu: memilih-milih bagian cerita tertentu supaya si pendengar beropini sesuai dengan yang diingini oleh si penutur) adalah memang jadi misi si penutur. Namun terkadang si penutur pun nggak sadar kalo dia udah melakukan pembentukan persepsi ini, mungkin karena dia lupa kalo si pendengar nggak mengalami dan berada di situasi yang sama dengan ketika si penutur mengalaminya. Akibatnya, terjadi ke-blunder-an fakta.

Dalam konteks di atas, Yayuk “lupa” bercerita, bahwa seminggu sebelum kejadian itu, Beno curhat dan berkeluh-kesah tentang hubungannya dengan yang sedang dirundung masalah berkelanjutan dengan istrinya. Andai Yayuk bercerita tentang hal ini ke Zuzi sebelum ia bercerita hal yang di atas, Zuzi pastinya bakal dapet gambaran yang lebih utuh, dan mungkin bisa memahami kenapa Bejo kok malah gembira ketika sudah cerai (meskipun ‘memahami’ bukan berarti ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’).

Kalau elo pernah menjadi Yayuk si penutur, jangan lupa bahwa pendengar lo mungkin nggak mengalami apa yang udah elo alami, sehingga dia bakal butuh ‘cerita pendahuluan’ atau ‘latar belakang kisah.’ Kalo nggak gitu, alih-alih maunya cerita doang, malah bisa bikin kusut masalah.

Kalo elo pernah menjadi Zuzi si pendengar, nggak ada salahnya kalo elo buru-buru mengklarifikasi segala sesuatu yang elo dengar, terutama kalo yang elo denger itu agak ‘lain’ atau bisa berpengaruh besar sama persepsi lo terhadap seseorang/sesuatu. Ini bagus buat ngeyakinin kalo elo nggak cuma ngedapetin bagian kecil ceritanya doang, tapi udah dapet gambaran yang kumplit plit plit dan bisa bereaksi dengan pas juga.

Pesan dalam Mimpi

Ditulis 12 Januari 2007 oleh Cay
Kategori: Sehari-hari

Semalem gue mimpi: Chika putus sama gue.

Begitu intens-nya mimpi itu, sampai rasanya lama sekali gue resah dan bingung menghadapi hal itu, bahkan akhirnya sampai satu titik di mana gue nggak tau lagi apakah itu mimpi atau kenyataan. Akhirnya gue kebangun, dengan rasa yang sungguh tidak nyaman.

Selalu percaya ada korelasi antara mimpi dan mata hati, gue iseng-iseng ng-goggle si mimpi; Google mempersembahkan website ini, yang bilang:

To dream that you break up with your significant other, indicates that there is something in your life that you need to let go no matter how hard it may be.

Akurasinya luar biasa. Beberapa jam sebelum tidur, gue sedang kepikiran sesuatu. Sesuatu yang sungguh berat buat gue, sampai menghilangkan mood gue untuk makan, ketemu orang lain, atau bahkan untuk ngomong. In fact, gue akhirnya pergi tidur karena udah jengah sama pemikiran itu, dan berharap esok hari datang cepat sambil membawa sedikit pencerahan.

Ternyata pencerahannya muncul dari hati sendiri, yang dibahasakan lewat mimpi: sudahlah, jalani dan iklaskan saja, itu memang berat, tapi pasti akan berlalu.

Selamat Pagi (Untuk Kesekian Kalinya)

Ditulis 5 Januari 2007 oleh Cay
Kategori: Sehari-hari

Tidak ada bukan berarti binasa.

Setelah hampir genap dua tahun gue absen dari dunia blog, dan melalui proses berkali-kali keinginan naik-turun untuk memunculkannya lagi, inilah dia sebuah blog baru dari Cay.

Nama dan branding lama tetap dipertahankan: Fresh from Cay. Blog lama yang menjadi jembatan menuju pemunculan nama tersebut (atau bahkan lebih luas lagi, blog itu menjadi pintu gerbang munculnya pemikiran gue di dunia maya) masih dan akan tetap dikenang, FreshFromCay.blogspot.com. Bagaimanapun, evolusi pemikiran dan kenangan-kenangan asik sejak tahun 2001, semuanya sudah terekam di sana (dan nggak tau juga gimana mindahnya juga ke sini, hihihi…).

Selanjutnya ngapain? Ngapain pindah? Mau apa di blog baru ini? Tunggulah. Rencana kinclong sudah berkelap-kelip di kepala, minta dikeluarkan dalam blog ini. Tapi memang waktu agak membatasi, jadi mari kita biarkan pemikiran ini berevolusi untuk kedua kalinya perlahan-lahan, liat aja nanti jadinya gimana. Mari… .